Idap Long QT Syndrome, Bunyi Alarm Bisa Bahayakan Nyawa Lisa dan Anaknya

Idap Long QT Syndrome, Bunyi Alarm Bisa Bahayakan Nyawa Lisa dan Anaknya

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Senin, 04 Apr 2016 16:32 WIB
Idap Long QT Syndrome, Bunyi Alarm Bisa Bahayakan Nyawa Lisa dan Anaknya
Foto: PH
Jakarta - Menonton acara TV yang lucu atau amat terkejut mendengar dering telepon bisa berakibat fatal bagi Lisa (28) dan kedua putrinya, Ellie (7) dan Amelie (4). Hal ini karena Long QT Syndrome yang ia idap.

Long QT syndrome merupakan penyakit keturunan yang kerap digambarkan sebagai bom waktu sebelum berhasil didiagnosis. Long QT syndrome merupakan kondisi di mana irama jantung berpotensi menjadi lebih cepat hingga menyebabkan detak jantung yang tidak beraturan. Detak jantung yang tidak beraturan seperti itu bisa memicu pingsan atau kejang mendadak.

"Kakek saya, Alex Mitchell dikenal sebagai orang yang meninggal karena tertawa saat ia mengalami serangan jantung dan meninggal ketika mengisi acara di TV pada tahun 1970. Dan penyakit ini nyatanya juga dialami oleh saya dan kedua putri saya," kata Lisa seperti dilaporkan Daily Star.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lisa tahu dirinya mengidap penyakit ini empat tahun lalu ketika ia tengah menghadiri pesta di rumah temannya. Dikatakan dokter, detak jantung tak beraturan rentan ia alami jika emosi Lisa tidak stabil. Untuk itu, ia harus menghindari tertawa karena menonton komedi atau mendengar lelucon.

Berbeda dengan Lisa, Ellie dan Amelie bisa mengalami gangguan detak jantung jika mereka terlalu terkejut. Alarm atau dering telepon yang terlalu kencang saja bisa membuat kedua gadis cilik itu kejang atau tidak sadarkan diri mendadak.

Baca juga: Waspadai Detak Jantung Meningkat Saat Sedang Tak Berkegiatan

"Sepupu saya juga meninggal karena penyakit ini. Untuk itu, pertama didiagnosis penyakit ini, saya hanya bisa meresapinya dan kekhawatiran saya terbukti, kedua putri saya juga mengalami hal serupa. Saat ini saya harus rutin mengonsumsi beta blocker yang membuat saya lesu serta mudah ngantuk," tutur Lisa.

Meski demikian, dia tidak ingin menyerah dengan keadaan. Lisa mencari bantuan dari British Heart Foundation di mana ia bertemu dengan perawat yang membantu mengatur keadaannya. Selain itu, Lisa juga sebisa mungkin menghindari pemicu yang bisa membuat ia dan kedua anaknya mengalami gangguan detak jantung mendadak.

Dikutip dari Mayo Clinic, pada beberapa kasus, kacaunya irama jantung yang terlalu lama bisa menyebabkan kematian mendadak. Tanda umum dari Long QT Syndrome yakni pingsan bahkan ketika seseorang merasa gembira, marah, atau ketakutan. Penyebab kondisi ini belum bisa dipastikan tetapi diyakini bahwa mutasi gen turut andil pada terjadinya Long QT Syndrome.

Baca juga: Detak Jantung Tak Beraturan Lebih Mengancam Bagi Wanita

(rdn/up)

Berita Terkait