Jakarta -
Wabah demam kuning di Angola menginfeksi lebih dari 1.600 orang, dengan 225 di antaranya meninggal dunia. Lalu, apakah demam kuning benar-benar berbahaya?
Dirangkum detikHealth dari berbagai sumber, Rabu (6/4/2016), berikut 5 hal penting yang harus diketahui soal demam kuning, termasuk cara penularan dan risiko kematiannya.
1. Ditularkan oleh nyamuk
Foto: thinkstock
|
Sama seperti keluarga Flavirus lainnya, nyamuk merupakan vektor utama penyakit ini. Species nyamuk Aedes africanus diketahui berpotensi paling besar menularkan demam kuning.Namun di daerah Amerika Selatan dan Kepulauan Karibia, penyakit demam kuning juga ditularkan oleh species Aedes aegypti dan Aedes albopictus, dua species nyamuk yang juga menularkan demam berdarah dan chikungunya.
2. Menyerang hati
Foto: Getty Images
|
Nama penyakit demam kuning muncul karena dua gejala utama penyakit ini, yakni demam dan kulit menguning (jaundice). Demam terjadi akibat infeksi virus yang menyerang.Sementara warna kulit yang menguning terjadi akibat adanya kerusakan pada hati (liver) seseorang. Efek infeksi ini juga bisa menyebabkan perdarahan dalam, gangguan ginjal serta gangguan pembuluh darah.
3. Risiko kematian
Foto: thinkstock
|
Sama seperti keluarga Flavirus lainnya, penyakit demam kuning terbagi menjadi tiga fase. Fase pertama adalah gejala ringan seperti mual, pusing, demam dan nyeri di sekujur tubuh. Sebagian besar orang yang terserang demam kuning akan sembuh sendiri setelah beberapa hari.Namun 15-25 persen pasien akan lanjut ke fase kedua, di mana gejala bertambah parah. Kulit menguning, demam tinggi, muntah darah merupakan gejala utama fase kedua. Pasien yang merasakan gejala ini harus segera mendapat penanganan.
Fase ketiga muncul jika pasien terlambat mendapat penanganan. Gangguan hati menyebabkan terjadinya hepatitis dan ditunjukkan dengan menguningnya mata dan kulit. 50 Persen dari pasien yang mencapai fase tiga meninggal dunia.
4. Tak ada di Indonesia
Foto: Nyamuk yang terinfeksi dua jenis bakteri Wolbachia diyakini dapat mengawasi penyebaran virus demam berdarah dan Zika. Foto: Cameron Simmons. (Credit: ABC licensed)
|
dr Erni Juwita Nelwan, SpPD-KTPI, Finasim dari Divisi Tropik dan Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia - RS Cipto Mangunkusumo mengatakan demam kuning bukan ancaman bagi masyarakat Indonesia. Sebabnya, vektor penularan penyakit ini tak ditemukan di sini.Hingga saat ini, belum pernah ada laporan kasus demam kuning di kawasan Asia. Demam kuning masih menjadi endemis di daerah Afrika, Amerika Selatan dan sebagian Eropa.
"Demam kuning bukan ancaman di Indonesia. Vektornya, nyamuk penularnya, itu nggak ada di sini. Sama kayak lalat tse-tse yang bikin penyakit tidur, kan itu adanya cuma di Afrika. Di kita nggak ada," urainya.
5. Obat dan vaksin
Foto: thinkstock
|
Sampai saat ini, belum ada obat yang mampu menyembuhkan demam kuning. Pengobatan di rumah sakit biasanya dilakukan untuk memastikan perdarahan tidak menyebar serta gangguan hati teratasi.Untuk itu, pencegahan pribadi penting dilakukan. Jaga kebersihan dan kesehatan lingkungan rumah agar nyamuk tidak bisa bersarang.
Lakukan vaksinasi jika ingin bepergian ke daerah Afrika dan Amerika Selatan. Jika sepulang dari daerah tersebut Anda merasa demam dan nyeri di sekujur tubuh, segera hubungi dokter untuk melakukan pemeriksaan.
Sama seperti keluarga Flavirus lainnya, nyamuk merupakan vektor utama penyakit ini. Species nyamuk Aedes africanus diketahui berpotensi paling besar menularkan demam kuning.
Namun di daerah Amerika Selatan dan Kepulauan Karibia, penyakit demam kuning juga ditularkan oleh species Aedes aegypti dan Aedes albopictus, dua species nyamuk yang juga menularkan demam berdarah dan chikungunya.
Nama penyakit demam kuning muncul karena dua gejala utama penyakit ini, yakni demam dan kulit menguning (jaundice). Demam terjadi akibat infeksi virus yang menyerang.
Sementara warna kulit yang menguning terjadi akibat adanya kerusakan pada hati (liver) seseorang. Efek infeksi ini juga bisa menyebabkan perdarahan dalam, gangguan ginjal serta gangguan pembuluh darah.
Sama seperti keluarga Flavirus lainnya, penyakit demam kuning terbagi menjadi tiga fase. Fase pertama adalah gejala ringan seperti mual, pusing, demam dan nyeri di sekujur tubuh. Sebagian besar orang yang terserang demam kuning akan sembuh sendiri setelah beberapa hari.
Namun 15-25 persen pasien akan lanjut ke fase kedua, di mana gejala bertambah parah. Kulit menguning, demam tinggi, muntah darah merupakan gejala utama fase kedua. Pasien yang merasakan gejala ini harus segera mendapat penanganan.
Fase ketiga muncul jika pasien terlambat mendapat penanganan. Gangguan hati menyebabkan terjadinya hepatitis dan ditunjukkan dengan menguningnya mata dan kulit. 50 Persen dari pasien yang mencapai fase tiga meninggal dunia.
dr Erni Juwita Nelwan, SpPD-KTPI, Finasim dari Divisi Tropik dan Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia - RS Cipto Mangunkusumo mengatakan demam kuning bukan ancaman bagi masyarakat Indonesia. Sebabnya, vektor penularan penyakit ini tak ditemukan di sini.
Hingga saat ini, belum pernah ada laporan kasus demam kuning di kawasan Asia. Demam kuning masih menjadi endemis di daerah Afrika, Amerika Selatan dan sebagian Eropa.
"Demam kuning bukan ancaman di Indonesia. Vektornya, nyamuk penularnya, itu nggak ada di sini. Sama kayak lalat tse-tse yang bikin penyakit tidur, kan itu adanya cuma di Afrika. Di kita nggak ada," urainya.
Sampai saat ini, belum ada obat yang mampu menyembuhkan demam kuning. Pengobatan di rumah sakit biasanya dilakukan untuk memastikan perdarahan tidak menyebar serta gangguan hati teratasi.
Untuk itu, pencegahan pribadi penting dilakukan. Jaga kebersihan dan kesehatan lingkungan rumah agar nyamuk tidak bisa bersarang.
Lakukan vaksinasi jika ingin bepergian ke daerah Afrika dan Amerika Selatan. Jika sepulang dari daerah tersebut Anda merasa demam dan nyeri di sekujur tubuh, segera hubungi dokter untuk melakukan pemeriksaan.
(mrs/up)