Rabu, 06 Apr 2016 17:30 WIB

Serba-serbi Semut Jepang

Serangga Kini Populer Jadi Bahan Makanan, Semut Jepang Juga Termasuk

Firdaus Anwar - detikHealth
Foto: Firdaus Anwar Foto: Firdaus Anwar
Jakarta - Pernah mendengar serangga bernama semut jepang (Ulomoides sp)? Hewan yang sebenarnya lebih dekat dengan keluarga kumbang ini populer di Indonesia karena diyakini bisa mengobati berbagai penyakit. Ramai-ramai orang mengonsumsinya meski menurut peneliti khasiat belum terbukti betul.

Namun di luar masalah khasiat, sebetulnya amankah mengonsumsi serangga? Bagi beberapa orang gagasan itu mungkin terdengar menjijikkan.

Ahli serangga di Laboratorium Entomologi Serangga, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Pramesa Narakusumo mengatakan nyatanya tren mengonsumsi serangga seperti semut jepang memang sedang naik. Bukan karena alasan manfaat khasiat yang dimiliki si serangga tapi karena masalah ketahanan pangan.

Lembaga internasional Food and Agriculture Organization (FAO) menyebut bahwa serangga merupakan sumber makanan yang nutrisinya tak kalah dengan sumber makanan hewani lain dan lebih ramah lingkungan. Sebagai perbandingan misalnya di lahan yang sama untuk menghasilkan 200 gram daging sapi, seseorang bisa memperoleh 2 kilogram larva serangga layak makan.

Kerabat dekat semut jepang, larva Tenebrio molitor atau dikenal juga dengan nama ulat hong kong misalnya memiliki nutrisi yang menurut data FAO hampir mirip dengan daging sapi. Protein pada ulat hongkong ada di nilai 49,1 sedangkan lemaknya 35,2 sementara daging sapi proteinnya 55 dan lemaknya 41.

"Protein berbasis serangga itu memang tidak kalah. Kalau untuk potensi kandungan nutrisi dia itu baik, bahkan ada beberapa jenis yang kalsium proteinnya lebih tinggi daripada daging," kata Pramesa kepada detikHealth dan ditulis pada Rabu (6/4/2016).

"FAO sedang intens meneliti ini karena serangga kan relatif lebih mudah didapatkan dan berkembang biak lebih cepat," lanjutnya.

Hanya saja perlu diakui juga ada beberapa masalah yang masih harus dihadapi bila ingin menjadikan serangga sebagai pangan sehari-hari. Alasan pertama adalah karena manusia secara global tak terbiasa, ada kemungkinan tak semua nutrisi bisa diserap dengan baik seperti dikatakan oleh seorang ahli diet serangga Dr Sarah Beynon.

Pramesa menambahkan ada kemungkinan juga rentan muncul alergi pada orang-orang. Alasannya sama yaitu karena tak terbiasa dengan protein dari serangga sehingga imunitas tubuh bereaksi. (fds/up)