Wilson menemukan bahwa ketika orang menulis pesan teks dan email secara bersamaan di meja kerja mereka, bisa terjadi penurunan IQ karena pikiran seperti melompat dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Saat multitasking, otak juga diibaratkan bola ping pong yang beralih-alih tugas.
"Multitasking juga bisa menyebkan cemas sehingga kadar hormon stres, kortisol, meningkat. Ketika Anda stres, adrenalin meningkat hingga timbul kekacauan di otak," kata Prof Ealr Miller, ilmuwan saraf di Massachusetts Institute of Technology, dikutip dari Your Tango.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibatnya, otak bisa kekurangan energi sehingga seseorang akan sulit berkonsentrasi. Dikatakan Prof Miller, jika seperti itu yang terjadi adalah waktu menyelesaikan banyak tugas tersebut justru akan lebih lama.
Baca juga: Orang yang Sering Melamun Tandanya Punya Otak Tajam
"Ketika orang mengatakan mereka bisa melakukan multitasking, mereka justru bisa saja tengah menipu dirinya sendiri. Akan lebih baik jika selesaikan tugas satu per satu dan fokus. Namun, jika Anda terpaksa melakukannya, usahakan jangan terlalu sering melakukan multitasking," papar Prof Miller.
Sebelumnya, studi yang dilakukan Dr Russ Poldrack dari The Poldrack Lab di Stanford melakukan penelitian tentang multitasking pada mahasiswa yang belajar sambil menonton TV. Hasilnya ditemukan bahwa informasi baru dari proses belajar disalurkan ke striatum, area khusus di otak untuk menyimpan informasi dan keterampilan baru.
Sedangkan, pada mahasiswa yang tidak menonton TV saat belajar, informasi baru yang mereka dapatkan dikirim ke hipokampus. Di hipokampus itulah informasi disimpan dan diatur kembali untuk digunakan lagi, misalnya saat ujian.
Baca juga: Sering Bercinta Bisa Bantu Otak Lebih Tajam Berpikir
(rdn/vit)











































