Jantung Babi Bisa Ditransplantasikan ke Baboon, Buka Peluang Donor ke Manusia?

Jantung Babi Bisa Ditransplantasikan ke Baboon, Buka Peluang Donor ke Manusia?

Firdaus Anwar - detikHealth
Rabu, 13 Apr 2016 16:05 WIB
Jantung Babi Bisa Ditransplantasikan ke Baboon, Buka Peluang Donor ke Manusia?
Foto: thinkstock
Jakarta - Jumlah pasien yang membutuhkan transplantasi organ sering kali tak seimbang dengan jumlah donor yang ada dan ini terjadi di berbagai belahan dunia. Oleh karena itu peneliti tengah berusaha mencari solusi dan salah satunya adalah dengan mencoba melihat potensi di hewan lain.

Disebut Xenotransplant, prosedur transplantasi antar spesies ini tengah dikembangkan oleh tim gabungan dari Amerika Serikat dan Jerman. Eksperimen terakhir melihat kesuksesan pemindahan jantung babi ke seekor baboon.

"Ini adalah hal yang sangat signifikan karena membawa kita satu langkah lebih dekat untuk menggunakan organ-organ ini pada manusia," ujar salah satu peneliti, Muhammad Mohiuddin, dari National Heart, Lung and Blood Institute di Maryland seperti dikutip dari BBC.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Xenotransplants dapat menyelamatkan ribuan nyawa yang hilang setiap tahun akibat kekurangan organ tubuh manusia untuk transplantasi," lanjut Mohiuddin.

Dalam jurnal Nature Communications peneliti mengatakan jantung babi yang ditransplantasi ke baboon bertahan selama 945 hari atau sekitar dua setengah tahun. Pencapaian ini mengalahkan rekor sebelumnya oleh kelompok peneliti yang sama yaitu 500 hari.

Baca juga: Remaja Ini Bisa Melihat Lagi Setelah Dapat Transplantasi Kornea Babi

Awalnya peneliti ingin memakai jantung primata sebagai objek penelitian karena secara genetik mirip dengan manusia. Tapi kemudian peneliti menyadari tak ada sumber yang sengaja diternakkan dan membutuhkan waktu lama bagi primata untuk berkembang biak.

Selain itu karena faktor kedekatan genetik ada juga kemungkinan terjadinya transmisi penyakit antar spesies.

Babi kemudian dipilih karena selain anatomi jantungnya mirip dengan manusia, ia memiliki risiko rendah untuk menularkan manusia dengan penyakit dan berkembang biak dengan cepat.

"Menurut pendapat kami, rejimen ini tampaknya cukup aman untuk diaplikasikan ke manusia yang menderita gagal organ stadium terakhir sebagai kandidat uji coba awal xenotransplantasi," tulis peneliti dalam laporannya. (fds/vit)

Berita Terkait