"Belum tentu. Tetapi keturunan penderita diabetes memang memiliki risiko terkena diabetes enam kali lebih tinggi daripada keturunan yang tidak ada diabetes," tegas dr Mangatas Manalu SpPD dari RS Mayapada Lebak Bulus Jakarta Selatan.
Dalam Live Chat 'Bongkar Mitos Diabetes' yang digelar di kantor detikcom, Jl Warung Jati Barat Raya 75, Jakarta Selatan, Senin (2/5/2016), dr Mangatas menambahkan jika ada riwayat keluarga dengan diabetes, tidak perlu takut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Studi: Konsumsi Coklat Punya Dampak Positif untuk Janin
Apalagi, ada faktor risiko diabetes yang sebenarnya dapat dimodifikasi yaitu overweight atau berat badan lebih dengan indeks massa tubuh lebih dari 23kg/m2, aktivitas fisik yang kurang, dan kebiasaan merokok. Untuk memodifikasinya, pasti diperlukan pengaturan pola hidup yang sehat.
Sementara, faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi di antaranya ras atau etnik. dr Mangatas mengungkapkan, ras Asia, Indian Amerika, dan Hispanik memiliki risiko diabetes melitus yang lebih besar. Faktor risiko lain yang tidak bisa dimodifikasi berupa riwayat keluarga dengan diabetes, riwayat melahirkan bayi dengan berat lahir lebih dari 4.000 gram atau pernah terkena diabetes gestational, serta riwayat lahir dengan berat badan rendah atau di bawah 2,5 kg.
"Umur juga berpengaruh di mana risiko diabetes melitus meningkat seiring meningkatnya usia. Jika Anda berusia lebih dari 45 tahun, sebaiknya periksakan kadar gula darah dengan rutin," kata dr Mangatas memberi saran.
Baca juga: Amankah Ibu Hamil Makan Pepaya?
(rdn/vit)











































