Studi dari University of Queensland di mana salah satu penelitinya berasal dari Indonesia, Fransisca Febriana Sidjaja, PhD, mengungkapkan tiga best practice yang seharusnya dilakukan saat mendiagnosis autisme saat ini memang belum bisa dipenuhi di Indonesia. Ketiga best practice tersebut adalah multistage, multidisiplin, dan standardisasi alat.
Dalam studinya ini, Febri dan timnya membandingkan praktik diagnosis autisme di Indonesia dengan empat negara yaitu Inggris, Kanada, Amerika Serikat, dan Australia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di tahap multistage. Di luar negeri untuk perawatan menggunakan sistem asuransi, kalau ada apa-apa pasien harus ke general practicioner (GP) baru bisa ke spesialis. Kalau di kita, praktiknya, orang bisa langsung ke spesialis dengan dana sendiri," tutur wanita yang akrab disapa Febri ini saat berbincang dengan detikHealth.
Maka dari itu, wanita yang merupakan penulis utama jurnal 'The Diagnosis of Autism Spectrum Disorder in Urban Indonesia: A Brief Report' ini mengatakan best practice yang diterapkan di luar negeri belum tentu sesuai dengan kondisi di Indonesia. Dalam best practice multidisiplin, pemeriksaan autisme harus dilakukan oleh lebih dari satu profesi. Misalnya di Australia, biasanya melibatkan psikolog, dokter anak, speech thrapy, dan neurolog jika diperlukan.
Baca juga: Ibu Kena Darah Tinggi Saat Hamil, Anak Bisa Lahir Autisme
Setelah anak diperiksa secara multidisiplin di mana ada komunikasi yang terkoordinir antar profesi, dokter anak yang kemudian akan menegakkan diagnosisnya. Best practice lain berupa alat tes terstandarisasi yakni alat itu harus memiliki spesifikasi yang sudah diujikan di populasi yang akan diteliti.
Seperti best practice pertama yaitu multistage, best practice multidisiplin dan standardisasi alat juga belum bisa dipenuhi di Indonesia. Untuk tahap kedua, multidisiplin, menurut Febri 90 persen praktisi memang sudah berkomunikasi dengan praktisi lain, tetapi belum terkoordinasi. Hal ini seringkali disebabkan karena kesibukan praktisi.
Untuk elemen alat yang terstandardisasi, Febri berharap Indonesia mampu memiliki alat yang tervalidasi dan terstandardisasi dalam mendiagnosis autisme. Ia mengakui memang tidak bisa menuntut agar Indonesia memiliki alat tes yang sangat maju. Tapi setidaknya, tersedia alat yang mudah terjangkau.
"Saat ini para praktisi sudah berusaha memberikan yang terbaik dengan menggunakan apa saja yang ada, misal dengan alat berbahasa Inggris. Tapi tentu alat ini belum tentu cocok digunakan oleh pasien anak di Indonesia. Adaptasi alat adalah hal yang harus dilakukan untuk dapat melakukan diagnosis dengan best practice yang ada," tutur Febri.
Sementara, Prof Irwanto, PhD yang juga terlibat dalam studi ini mengatakan penerapan best practice amat erat kaitannya dengan sistem kesehatan. Tahap multistage bisa dipenuhi jika ada peraturan dari negara. Di mana untuk berkonsultasi dengan spesialis sebelumnya harus melalui dokter layanan primer. Sedangkan, di Indonesia justru dikenal klinik pribadi, klinik bersama atau rumah sakit.
"Multidisiplin pun hanya mungkin terjadi jika di rumah sakit. Dan untuk konteks ketiga yaitu alat yang terstandardisasi dibutuhkan good adaptation. Penciptaan alat terstandardisasi ini harus dimulai dari perguruan tinggi yang tertarik," jelas Prof Irwanto yang juga Wakil Direktur Pusat Kajian Perlindungan Anak Universitas Indonesia.
Baca Juga: Ingat Ya, Autisme Bukan Penyakit dan Tidak Menular
(rdn/vit)











































