Idap Diabetes Harus 'Musuhi' Makanan Manis? Cek Faktanya di Sini

Idap Diabetes Harus 'Musuhi' Makanan Manis? Cek Faktanya di Sini

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Selasa, 03 Mei 2016 13:29 WIB
Idap Diabetes Harus Musuhi Makanan Manis? Cek Faktanya di Sini
Foto: Thinkstock
Jakarta - Terkait diabetes, tak sedikit pertanyaan yang butuh diluruskan. Sebab jika tidak, justru hanya menjadi mitos yang menyesatkan masyarakat.

Misalnya saja ketika didiagnosis diabetes benar-benar harus 'memusuhi' gula dan makanan manis, apa benar seperti itu? Untuk itu, yuk simak penuturan dr Mangatas Manalu SpPD dari RS Mayapada Lebak Bulus Jakarta Selatan berikut terkait pertanyaan-pertanyaan yang kerap dilontarkan soal diabetes.

Baca juga: Cuka Apel dan Rebusan Kulit Manggis Ampuh Stabilkan Gula Darah? Ini Faktanya

1. Tak Boleh Makan Makanan Manis?

Foto: thinkstock
"Kalau gula dalam makanan, tidak perlu dihindari. Tetapi gula pasir harus diperhitungkan dalam total asupan kalori harian, yaitu tidak boleh lebih dari 5 persen," kata dr Mangatas di sela-sela Live Chat 'Bongkar Mitos Diabetes' yang digelar detikHealth dan detikForum di kantor detikcom, Jl Warung Jati Barat Raya 75, Jakarta Selatan baru-baru ini.

Lalu, apakah pasien diabetes benar-benar tidak boleh makan makanan manis seperti brownies, donat, dan cake misalnya? Nah, dr Mangatas mengatakan boleh-boleh saja asalkan glukosa darah terkontrol, yaitu gula darah puasa kurang dari 120mg/dl dan Hba1c dibawah 7 persen selama 6 bulan. Namun, jangan lupa perhatikan jumlah makanan yang diasup ya!

2. Minum Minuman Berperasa

Foto: Thinkstock
dr Mangatas menegaskan diabetes dapat terjadi akibat konsumsi karbohidrat dan lemak yang berlebihan, ditambah faktor genetik. "Kalau konsumsi gulanya tidak berlebihan, seperti minum air yang memiliki rasa, ya tidak apa-apa," ungkapnya.

Soal kebiassan makan langsung tidur meningkatkan risiko diabetes, dr Mangatas menuturkan tergantung dari jumlah asupan makanan dan aktivitas yang dilakukan. Jika asupan makanannya sedikit dan olahraga dilakukan teratur, maka tidak masalah.

3. Gula Darah Sewaktu di Atas 140 mg/dl, Pasti Pradiabetes?

Foto: Thinkstock
Untuk mengetahui pradiabetes, dikatakan dr Mangatas sebelumnya perlu berpuasa dulu baru kemudian dilakukan tes pembebanan glukosa 75 gram yang dilarutkan dalam 1 gelas air (200cc), kemudian diminum dalam waktu 5 menit.

"Bukan dengan gula darah setelah makan. Setelah minum larutan glukosa tersebut, diperiksa 1 jam dan 2 jam. Bukan 3 jam. Jadi, pemeriksaan misalnya di apotek beberapa jam sebelum dan sesudsh makanĀ  tidak bisa menentukan pradiabates atau tidak," kata dr Mangatas.

Ia menambahkan, tes pembebanan glukosa hanya dapat dilakukan di laboratorium besar dan berstandar ISO serta di laboratorium rumah sakit besar.

4. Nasi Putih Kemarin, Gulanya Tak Terlalu Tinggi?

Foto: Thinkstock
"Tidak benar. Jika ingin mengonsumsi karbohidrat yang disarankan di antaranya nasi merah atau nasi rendah indeks glikemik (nasi cokelat), sereal, talas, dan labu," kata dr Mangatas.

Beberapa waktu sebelumnya, dr Herry Nursetiyanto, SpPD-KEMD juga dari RS Mayapada Lebak Bulus Jakarta Selatan mengatakan anggapan tersebut tidak terbukti secara ilmiah. Menurutnya, alasan seseorang lebih doyan mengonsumsi nasi dingin adalah sugesti yang membuat porsi nasinya menjadi lebih sedikit daripada ketika nasi pulen dan panas.

"Mitos itu. Indeks glikemiknya sama saja mau nasi panas atau nasi hari kemarin yang sudah dingin. Saya selalu bilang ke pasien, cuma masalah lidah. Mungkin saja kan kalau nasinya dingin jadinya rasanya kurang enak, kurang sedap, makanya makannya lebih sedikit," kata dr Herry.

Halaman 2 dari 5
"Kalau gula dalam makanan, tidak perlu dihindari. Tetapi gula pasir harus diperhitungkan dalam total asupan kalori harian, yaitu tidak boleh lebih dari 5 persen," kata dr Mangatas di sela-sela Live Chat 'Bongkar Mitos Diabetes' yang digelar detikHealth dan detikForum di kantor detikcom, Jl Warung Jati Barat Raya 75, Jakarta Selatan baru-baru ini.

Lalu, apakah pasien diabetes benar-benar tidak boleh makan makanan manis seperti brownies, donat, dan cake misalnya? Nah, dr Mangatas mengatakan boleh-boleh saja asalkan glukosa darah terkontrol, yaitu gula darah puasa kurang dari 120mg/dl dan Hba1c dibawah 7 persen selama 6 bulan. Namun, jangan lupa perhatikan jumlah makanan yang diasup ya!

dr Mangatas menegaskan diabetes dapat terjadi akibat konsumsi karbohidrat dan lemak yang berlebihan, ditambah faktor genetik. "Kalau konsumsi gulanya tidak berlebihan, seperti minum air yang memiliki rasa, ya tidak apa-apa," ungkapnya.

Soal kebiassan makan langsung tidur meningkatkan risiko diabetes, dr Mangatas menuturkan tergantung dari jumlah asupan makanan dan aktivitas yang dilakukan. Jika asupan makanannya sedikit dan olahraga dilakukan teratur, maka tidak masalah.

Untuk mengetahui pradiabetes, dikatakan dr Mangatas sebelumnya perlu berpuasa dulu baru kemudian dilakukan tes pembebanan glukosa 75 gram yang dilarutkan dalam 1 gelas air (200cc), kemudian diminum dalam waktu 5 menit.

"Bukan dengan gula darah setelah makan. Setelah minum larutan glukosa tersebut, diperiksa 1 jam dan 2 jam. Bukan 3 jam. Jadi, pemeriksaan misalnya di apotek beberapa jam sebelum dan sesudsh makanĀ  tidak bisa menentukan pradiabates atau tidak," kata dr Mangatas.

Ia menambahkan, tes pembebanan glukosa hanya dapat dilakukan di laboratorium besar dan berstandar ISO serta di laboratorium rumah sakit besar.

"Tidak benar. Jika ingin mengonsumsi karbohidrat yang disarankan di antaranya nasi merah atau nasi rendah indeks glikemik (nasi cokelat), sereal, talas, dan labu," kata dr Mangatas.

Beberapa waktu sebelumnya, dr Herry Nursetiyanto, SpPD-KEMD juga dari RS Mayapada Lebak Bulus Jakarta Selatan mengatakan anggapan tersebut tidak terbukti secara ilmiah. Menurutnya, alasan seseorang lebih doyan mengonsumsi nasi dingin adalah sugesti yang membuat porsi nasinya menjadi lebih sedikit daripada ketika nasi pulen dan panas.

"Mitos itu. Indeks glikemiknya sama saja mau nasi panas atau nasi hari kemarin yang sudah dingin. Saya selalu bilang ke pasien, cuma masalah lidah. Mungkin saja kan kalau nasinya dingin jadinya rasanya kurang enak, kurang sedap, makanya makannya lebih sedikit," kata dr Herry.

(rdn/vit)

Berita Terkait