Pada dasarnya autisme merupakan masalah perkembangan yang berbentuk spektrum atau memiliki derajat yakni mild, moderat dan severe. Demikian disampaikan Prof Irwanto, PhD, wakil direktur Pusat kajian dan Perlindungan Anak Universitas Indonesia.
Dikatakan Prof Irwanto, untuk anak yang didiagnosis autisme dengan grade mild, ia masih bisa belajar, dilatih, juga memiliki fleksibilitas walaupun atensi kurang. Selain itu, perilaku anak juga masih bisa diarahkan. Bahkan, jika ditata laksana dengan baik, anak dengan autsime grade mild bisa lulus dari dari jenjang pendidikan di Perguruan Tinggi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk itu, ia menekankan bukan berarti anak dengan autisme grade moderate atau severe tidak bisa mandiri. Prof Irwanto mengungkapkan, menurut pengalamannya ada salah satu anak yang didiagnosis autisme dan levelnya bukan ringan tapi sudah moderate. Namun, sang orang tua tidak pernah putus asa.
"Orang tuanya selalu memberikan terapi yang terbaik bagi anak. Akhirnya anak mampu untuk kuliah bahkan bekerja menjadi guru bahasa Inggris," ungkap Prof Irwanto.
Baca Juga: Jelang Usia 2 Tahun Tapi Anak Belum Bicara Lancar? Mungkin Ini Sebabnya
Terkait terapi pada anak dengan autisme, Febriana Sidjaja, PhD yang baru-baru ini melakukan studi tentang autisme di Indonesia mengungkapkan, dari pengalamannya, biaya perawatan autisme di Jakarta berkisar antara Rp 50-300 ribu per jam. Biasanya, terapi dengan tarif Rp 50 ribu diberikan oleh yayasan sosial.
Untuk itu, wanita yang akrab disapa Febri ini sangat berharap akan lebih banyak riset di bidang autisme. Dengan begitu, kondisi di lapangan tentang penatalaksanaan autisme akan lebih 'terbuka'. Febri juga yakin jika riset bisa menyediakan data atau bukti-bukti yang dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan yang lebih baik.
Misalnya, saat ini di Amerika mulai dipertanyakan apakah jenis terapi yang selama ini diberikan pada anak dengan autisme memang efektif. Sebab, riset menemukan bahwa sampai memasuki usia dewasa, banyak individu dengan autisme yang belum bisa mandiri. Untuk tulah, hasil riset ini menjadi dasar pertimbangan dalam mengevaluasi dan mengembangkan treatment yang lebih efektif.
"Banyak banget klien saya yang sangat potensial, dan dengan treatment yang baik bisa mencapai tingkat pendidikan yang lebih tinggi," pungkas Febri.
Baca Juga: DNA Tumpang Tindih, Penyandang Autis Justru Berisiko Kecil Terserang Kanker
(rdn/vit)










































