Terlepas dari kasus ini, psikolog anak dan remaja Ratih Zulhaqqi mengatakan pada dasarnya remaja memang belum memiliki pengendalian diri yang baik sebab mereka masih menjalani proses tersebut. Namun, dikatakan Ratih, tidak ada rasa bersalah pada remaja usai melakukan kesalahan bisa berarti lack of empathy.
"Kalau kurang empati, berarti ada masalah di dirinya. Apalagi kalau dia impulsif di mana dia nggak mikir apa yang bakal dialami orang lain kalau dia melakukan sesuatu tertentu. Apalagi dalam kasus ini si pelakunya di bawah pengaruh alkohol kan, jadi pastinya pengendalian diri dia nggak ada," tutur Ratih saat berbincang dengan detikHealth.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menyebutkan, salah satu kondisi yang bisa membuat seseorang tak beempati adalah conduct disorder yang merupakan perpanjangan Attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD) yang tidak tertangani dengan baik. Pada orang dengan ADHD, biasanya mereka impulsif hiperaktif dan memiliki kontrol energi yang tidak terlalu baik.
Ketika tidak ditangani, maka seiring bertambahnya usia akan terjadi Opposite Deviant Disorder (ODD) di mana seseorang menjadi pribadi yang membangkang, melawan, dan cenderung tidak memiliki aturan. Dampaknya, ia akan melakukan sesuatu tanpa memikirkan efek apa yang akan terjadi pada orang lain.
"Dari ODD itu muncullah gangguan Conduct Disorder. Orang tidak punya empati, ngelakuin aja apa yang dia mau tanpa mempedulikan orang lain. Penyebabnya sih basically sensory problem yang tidak tertangani dengan baik, tapi juga banyak faktor X lainnya" kata Ratih yang praktik di RaQQi - Human Development & Learning Centre ini.
Dihubungi terpisah, psikolog anak dan keluarga Anna Surti Ariani, M.Psi menambahkan conduct disorder juga mengarah pada gangguan emosi seseorang. Sehingga, ia cenderung bersifat kasar dan agresif. Selain faktor biologis di mana ada masalah pada area tertentu otak, pola asuh juga bisa berkontribusi pada gangguan ini.
"Pola asuh otoriter di mana orang tua cenderung keras. Atau justru pola asuh yang membiarkan anak mendapatkan apa yang dia mau, dibiarkan saja ketika melakukan kekerasan pada orang lain sehingga dia nggak terbiasa memikirkan apa dampak yang bakal dialami orang lain saat dia berbuat sesuatu," tutur wanita yang akrab disapa Nina ini.
Baca juga: Jika Sering Diperlakukan Kasar, Anak Berisiko Obesitas Saat Dewasa
(rdn/vit)











































