Panas di tubuh Novita yang tinggi disertai muntah-muntah dan tekanan darah yang tinggi sempat membuat dokter menduga bocah ini mengalami tipus ataupun demam berdarah. Sayangnya meski sudah bolak-balik ke dokter, segala diagnosis yang diberikan itu seolah termentahkan.
"Terus sama dokternya akhirnya dirujuk ke sini (RSUP Dr Sardjito, red). Katanya ada gangguan ginjal," kisah Novita kepada detikHealth di sela-sela acara peringatan World Lupus Day 2016 di Gedung Diklat RSUP Dr Sardjito, Selasa (10/5/2016).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Opik saat ini tercatat sebagai siswi kelas 5 SD Gedongsari 5 Magelang. "Di sekolah guru-guru sudah tahu. Jadi kalau sakit gitu langsung bilang, nanti sama guru diantar pulang," tuturnya.
Orang tua Opik memang sudah mengantisipasi hal ini, sebab si kecil memang tidak boleh terlalu capek. "Kalo kecapekan gitu suka pusing," imbuhnya.
Pipi Opik yang tembem rupanya juga merupakan efek samping dari pengobatan yang diberikan kepadanya. Namun yang menarik dari bocah berumur 11 tahun ini adalah ia punya cara unik untuk meredakan nyeri yang muncul di sekujur tubuhnya.
Baca juga: Kisah Lucia Terkena Lupus, Mulanya Hanya Nyeri Sendi Tiap Pagi
Dengan polos Opik menceritakan bahwa ia mengibaratkan ada 'tombol khusus' di bagian-bagian tubuhnya yang sering nyeri. Di antaranya di kening, punggung, lutut dan engkel kakinya.
"Tombolnya ini ada angkanya, sampai 10. Kalau sakit, tinggal diputer, dikecilin sampai angka 0," jelasnya.
Menurutnya, cara itu ampuh meredam yang sering muncul di hampir sekujur persendiannya. Hal yang sama juga berlaku untuk makanan. Sebelum makan, Opik selalu berkata kepada makanan di hadapannya, "Hai makanan, jadi obat ya."
Siapa sangka, kepolosan Opik justru memberinya kekuatan untuk bertahan dari rasa sakit yang menderanya. Bahkan Opik tidak memperlihatkan wajah murung ataupun kesakitan saat menceritakan kondisinya.
Padahal menurut keterangan salah satu dokter yang merawatnya, Opik baru saja mengganti protokol pengobatan karena pendarahan di matanya.
Baca juga: Bertahun-tahun Hidup dengan Lupus, Iyan Dirikan Komunitas untuk Bantu Sesama
(lll/vit)











































