Jumat, 20 Mei 2016 07:37 WIB

Studi Ini Sebut ASI dan Air Mani Bisa Turut Sebarkan Ebola

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Foto: thinkstock
Jakarta - Selama ini para pakar hanya mengetahui jika wabah Ebola dapat menyebar secara pesat setelah terjadi kontak langsung dengan darah dan keringat dari tubuh pasien.

Baca juga: Wabah Ebola Kali Ini Tercatat Paling Buruk, Apa Sebabnya?

Namun penelitian terbaru mengungkap virus, mematikan ini juga bisa disebarkan lewat cairan lain, yaitu air mani dan ASI (air susu ibu).

Temuan mengejutkan ini didapat setelah peneliti dari University of Cambridge dan Wellcome Trust Sanger Institute berhasil mengumpulkan 554 sampel darah, cheek swab (usapan pada pipi bagian dalam), air mani dan ASI dari pasien terakhir yang ada di Sierra Leone. Ini adalah riset dengan skala terbesar yang berkaitan dengan wabah Ebola di Afrika Barat sepanjang tahun 2014-2015

Sampel-sampel yang dikumpulkan sejak bulan Desember 2014 hingga September 2015 ini lantas diuraikan genome-nya dan dari situlah ketahuan jika virus Ebola ternyata juga bisa menyebar lewat air mani dan ASI.

Peneliti juga menemukan sejumlah kasus yang membuktikan teori tersebut, di antaranya seorang ibu yang diduga telah menularkan virus Ebola ke bayinya dan seorang penyintas Ebola yang dikabarkan menyebarkan virus ini kepada pasangannya, bahkan setelah sebulan dikeluarkan dari karantina.

Baca juga: Cepat Bermutasi, Virus Ebola Diprediksi Akan Terus Memakan Korban

"Studi ini membuktikan bahwa virus Ebola dapat menumpang di dalam cairan tubuh dalam waktu yang lama, bahkan setelah si pasien menjalani pemulihan," terang Dr Jeremy Farrar, direktur Wellcome Trust, seperti dilaporkan Daily Mail.

Di sisi lain, Farrar juga meyakini jika metode rapid sequencing dapat memainkan peranan penting dalam mengendalikan situasi jika sewaktu-waktu terjadi wabah Ebola lagi. Sebab dengan cara ini, petugas medis dapat mendeteksi atau melacak darimana sumber virus itu berasal.

"Sejak awal, tim kami sudah mencoba menggunakan metode ini untuk pengamatan, tetapi karena sampel dari Afrikanya seringkali terlambat datang, maka kami kehabisan waktu untuk menentukan seperti apa rantai penularannya," tutupnya. (lll/vit)