Dalam riset yang mereka lakukan, peneliti menyoroti bahan makanan yang disebut sebagai 'emulsifier'. Bahan ini seringkali ditambahkan pada berbagai jenis makanan olahan untuk menambah daya tahan dan memperbaiki tekstur makanan, di antaranya pada es krim dan selai kacang,
Peneliti lantas melakukan simulasi usus manusia dengan memanfaatkan sejumlah perangkat khusus di lab, dan memasukkan sejumlah bakteri yang ada dalam usus. Untuk keperluan percobaan, peneliti menggunakan dua jenis emulsifier, yakni carboxymethylcellulose (CMC) dan polysorbate-80 (P-80), yang kemudian dimasukkan ke dalam usus 'buatan' tadi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Benarkah Lintah dalam Kangkung yang Termakan Bisa Bersemayam di Usus?
Untuk memastikannya, peneliti memindahkan sekelompok bakteri usus tadi ke dalam tubuh beberapa ekor tikus yang tidak punya bakteri usus sendiri. Benar saja, tikus-tikus ini juga mengalami peradangan usus dan memperlihatkan gejala sindrom metabolik, di antaranya obesitas, gula darah tinggi dan resistensi insulin.
"Ini membuktikan bahwa emulsifier berdampak langsung terhadap bakteri dalam usus," simpul Chassaing seperti dilaporkan Livescience.
Baca juga: Hati-hati, Merokok Ternyata Juga Memperparah Kondisi Radang Usus
Namun karena belum dipastikan lewat percobaan klinis, peneliti belum berani memberikan kesimpulan pasti. Peradangan pada usus sendiri merupakan cikal bakal munculnya berbagai penyakit kronis, seperti sembelit dan diare, bahkan kanker.
"Mayoritas produk makanan mencantumkan emulsifier pada label mereka, tetapi zat aditif bisa saja memakai berbagai nama. Jadi sulit bagi kita untuk menghindarinya hanya dengan bermodal membaca label," ungkap Chassaing.
Untuk itu, lanjutnya, cara terbaik menghindari emulsifier masuk ke tubuh kita adalah dengan menghindari konsumsi makanan olahan atau menggantinya dengan makanan yang diolah sendiri. (lll/up)











































