World Organization for Animal Health (OIE) menyebut wabah flu burung di Niger berlangsung sejak akhir bulan Februari 2016. Hingga saat ini, sudah ada lebih 86.000 unggas dari berbagai peternakan yang tewas akibat penyakit ini.
"Wabah yang bermula di Februari ini mengancam kesehatan masyarakat melalui penularan dari peternakan unggas yang ada di pinggir kota," demikian tulis OIE, dikutip dari Reuters, Senin (6/6/2016).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Minggu lalu, penyebaran virus flu burung juga dilaporkan di Kamerun. Kurang lebih 1.500 ayam mati di sebuah peternakan di daerah Bayangam. Kementerian pertanian dan peternakan Kamerun mengatakan sudah melakukan karantina dan pemusnahan masal unggas terkait hal ini.
James McGrane, Team Leader Food and Agriculture Organization, Emergency Centre for Transboundary Animal Diseases (FAO-ECTAD) menyebut pemeliharaan unggas, termasuk burung, itik dan ayam, di lingkungan rumah sangat tidak disarankan.
Menurutnya, hewan-hewan tersebut berpotensi besar mengidap virus flu burung dari burung-burung liar atau sumber air di sekitar yang sudah terkontaminasi virus. Meski begitu, bukan berarti seseorang tidak boleh sama sekali memelihara burung atau ayam.
"Jikapun ingin memelihara ayam atau burung, jaga kesehatannya. Perhatikan kebersihan lingkungan dan pastikan hewan peliharaan mendapat vaksinasi," tuturnya.
Baca juga: Virus Flu Burung Masih Jadi Ancaman di Indonesia, Ini Data-datanya
(mrs/vit)











































