4 Gangguan Jiwa yang Bikin Bulu Kuduk Merinding

4 Gangguan Jiwa yang Bikin Bulu Kuduk Merinding

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Selasa, 07 Jun 2016 14:35 WIB
4 Gangguan Jiwa yang Bikin Bulu Kuduk Merinding
Ilustrasi pasien gangguan jiwa (Foto: Budi Sugiharto)
Jakarta - Gangguan jiwa dan masalah kejiwaan merupakan penyakit, dan sebagian besar di antaranya bisa diterapi bahkan disembuhkan. Meski begitu, beberapa di antaranya sangat aneh dan bikin bulu kuduk merinding.

Misalnya, penyakit yang membuat Anda merasa bahwa orang terdekat bukan dirinya dan sudah diganti oleh orang lain. Terdengar seperti plot film horor atau penculikan oleh alien bukan?

Atau lainnya di mana Anda memiliki anggota tubuh yang lengkap, namun ada keinginan kuat untuk memutilasi salah satu anggota tubuh tersebut?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikutip dari Medical Daily, Selasa (7/6/2016), berikut 4 gangguan jiwa yang bikin bulu kuduk merinding:

Baca juga: Bukan karena Diikuti Makhluk Halus, Gangguan Jiwa Bisa Disembuhkan

1. Capgras Syndrome

Foto: thinkstock
Capgras syndrome merupakan gangguan jiwa yang sangat langka sekaligus sangat aneh. Penyakit ini membuat seseorang percaya bahwa orang terdekatnya, entah itu orang tua, pasangan, atau anak, digantikan oleh orang lain.

Gangguan ini bisa bertahan sementara atau bahkan seumur hidup tergantung keparahannya. Akibatnya, pasien akan sering merasa was-was dan tidak nyaman, bahkan histeris karena merasa orang terdekatnya sudah tak ada lagi.

Salah satu kasus Capgras syndrome yang fenomenal terjadi pada seorang wanita berusia 74 tahun di Amerika Serikat. Pada tahun 1991, wanita tersebut mengatakan suaminya sudah berubah dan digantikan oleh orang lain. Ia mengunci pintu kamar bahkan mengancam untuk membunuh suaminya, sebelum polisi akhirnya ikut campur dan memasukkan wanita tersebut ke rumah sakit jiwa.

Pakar kejiwaan sendiri belum menemukan penyebab pasti gangguan ini. Ada yang berpendapat bahwa bagian otak yang memiliki fungsi untuk mengenali wajah rusak, ada juga yang mengaitkannya dengan kondisi emosional alam bawah sadar yang dirasakan pasien.

Faktor risiko penyakit ini juga belum diketahui. Stroke, overdosis obat-obatan terlarang hingga benturan di otak ditengarai meningkatkan risiko terjadinya penyakit ini. Meski begitu, diketahui pula penyakit ini biasanya muncul juga pada pasien schizophrenia dan pasien penyakit neurodegenerative.

2. Autophagia

Foto: thinkstock
Autophagia merupakan bentuk lain dari kanibalisme. Bedanya, pasien autophagia tidak memakan anggota tubuh orang lain, melainkan memakan anggota tubuh dirinya sendiri. Hii!

Kasus yang cukup dikenal luas terjadi pada pria berusia 66 tahun di Amerika Serikat. Pasien mengalami insomnia yang berujung kepada menyakiti dirinya sendiri dan akhirnya memakan anggota tubuhnya.

"Pasien sudah memutilasi jari tangannya selama 6 tahun. Kemudian perilakunya bertambah aneh dengan menggigit dan memakan jari tangannya yang lain hingga habis," tulis dokter yang merawatnya di jurnal NCBI.

Sebagian besar dapat memperbaiki kondisinya melalui kombinasi pengobatan antipsikotik dan antidepressant. Meski begitu, pakar juga menyebut autophagia sebagai gejala awal dari penyakit lain, yakni Lesch-Nyhan syndrome.

3. Cotard Delusion

Foto: thinkstock
Cotard delusion memiliki nama lain, yakni sindrom mayat berjalan. Penyakit ini membuat seseorang yang masih sehat dan hidup meyakini bahwa ia sudah mati, bahkan sudah kehilangan eksistensi dan tidak lagi memiliki tubuh hidup.

Esme Weijun Wang, mantan pasien Cotard delusion, menulis pengalaman pribadinya bertarung dengan gangguan jiwa tersebut. Esme merasa ia sudah mati dan dikirim ke neraka sebagai hukuman.

"Aku sangat sedih dan berpikir apa kesalahan yang sudah aku lakukan hingga dikirim ke neraka yang sama persis dengan dunia tempat aku tinggal ketika masih hidup. Hal ini sangat menyiksaku," tuturnya.

Nama Cotard delusion diambil dari nama Dr Jules Cotard, seorang pakar saraf berkebangsaan Perancis yang pertama kali menemukan penyakit ini. Pasiennya, Nona X, tidak merasa perlu dan ingin makan karena merasa dirinya sudah mati dan tidak lagi memiliki organ tubuh. Nona X akhirnya meninggal dunia karena kelaparan.

Penyebab penyakit ini sendiri masih misterius. Pakar berspekulasi bahwa penggunaan narkoba hingga gangguan neuron di otak merupakan penyebabnya.

4. Body Integrity Identity Disorder

Foto: thinkstock
Body integrity identity disorder (BIID) atau biasa dikenal sebagai amputee syndrome merupakan penyakit yang membuat seseorang percaya dirinya adalah penyandang disabilitas. Dengan kata lain, anggota tubuh yang sebenarnya masih sehat harus dipotong karena tidak sesuai dengan kondisi disabilitas Anda.

Seorang wanita bernama Jewel Shuping mengaku mengidap BIID. Dalam wawancara oleh Barcroft TV, ia mengatakan dirinya seharusnya buta dan tidak memiliki penglihatan.

Akibatnya Jewel menuangkan cairan pemutih ke matanya sendiri agar ia buta dan akhirnya belajar membaca dan menulis huruf braille.

Pada tahun 2000, seorang dokter asal Skotlandia mengamputasi kaki dua orang pasien BIID. Tidak ada penyakit atau gangguan apapun di kedua kaki mereka. Hanya saja memang mereka merasa kakinya seharusnya tidak ada.

Tindakan ini sangat kontroversial dan mendapat kecaman dari dunia kedokteran internasional.
Halaman 2 dari 5
Capgras syndrome merupakan gangguan jiwa yang sangat langka sekaligus sangat aneh. Penyakit ini membuat seseorang percaya bahwa orang terdekatnya, entah itu orang tua, pasangan, atau anak, digantikan oleh orang lain.

Gangguan ini bisa bertahan sementara atau bahkan seumur hidup tergantung keparahannya. Akibatnya, pasien akan sering merasa was-was dan tidak nyaman, bahkan histeris karena merasa orang terdekatnya sudah tak ada lagi.

Salah satu kasus Capgras syndrome yang fenomenal terjadi pada seorang wanita berusia 74 tahun di Amerika Serikat. Pada tahun 1991, wanita tersebut mengatakan suaminya sudah berubah dan digantikan oleh orang lain. Ia mengunci pintu kamar bahkan mengancam untuk membunuh suaminya, sebelum polisi akhirnya ikut campur dan memasukkan wanita tersebut ke rumah sakit jiwa.

Pakar kejiwaan sendiri belum menemukan penyebab pasti gangguan ini. Ada yang berpendapat bahwa bagian otak yang memiliki fungsi untuk mengenali wajah rusak, ada juga yang mengaitkannya dengan kondisi emosional alam bawah sadar yang dirasakan pasien.

Faktor risiko penyakit ini juga belum diketahui. Stroke, overdosis obat-obatan terlarang hingga benturan di otak ditengarai meningkatkan risiko terjadinya penyakit ini. Meski begitu, diketahui pula penyakit ini biasanya muncul juga pada pasien schizophrenia dan pasien penyakit neurodegenerative.

Autophagia merupakan bentuk lain dari kanibalisme. Bedanya, pasien autophagia tidak memakan anggota tubuh orang lain, melainkan memakan anggota tubuh dirinya sendiri. Hii!

Kasus yang cukup dikenal luas terjadi pada pria berusia 66 tahun di Amerika Serikat. Pasien mengalami insomnia yang berujung kepada menyakiti dirinya sendiri dan akhirnya memakan anggota tubuhnya.

"Pasien sudah memutilasi jari tangannya selama 6 tahun. Kemudian perilakunya bertambah aneh dengan menggigit dan memakan jari tangannya yang lain hingga habis," tulis dokter yang merawatnya di jurnal NCBI.

Sebagian besar dapat memperbaiki kondisinya melalui kombinasi pengobatan antipsikotik dan antidepressant. Meski begitu, pakar juga menyebut autophagia sebagai gejala awal dari penyakit lain, yakni Lesch-Nyhan syndrome.

Cotard delusion memiliki nama lain, yakni sindrom mayat berjalan. Penyakit ini membuat seseorang yang masih sehat dan hidup meyakini bahwa ia sudah mati, bahkan sudah kehilangan eksistensi dan tidak lagi memiliki tubuh hidup.

Esme Weijun Wang, mantan pasien Cotard delusion, menulis pengalaman pribadinya bertarung dengan gangguan jiwa tersebut. Esme merasa ia sudah mati dan dikirim ke neraka sebagai hukuman.

"Aku sangat sedih dan berpikir apa kesalahan yang sudah aku lakukan hingga dikirim ke neraka yang sama persis dengan dunia tempat aku tinggal ketika masih hidup. Hal ini sangat menyiksaku," tuturnya.

Nama Cotard delusion diambil dari nama Dr Jules Cotard, seorang pakar saraf berkebangsaan Perancis yang pertama kali menemukan penyakit ini. Pasiennya, Nona X, tidak merasa perlu dan ingin makan karena merasa dirinya sudah mati dan tidak lagi memiliki organ tubuh. Nona X akhirnya meninggal dunia karena kelaparan.

Penyebab penyakit ini sendiri masih misterius. Pakar berspekulasi bahwa penggunaan narkoba hingga gangguan neuron di otak merupakan penyebabnya.

Body integrity identity disorder (BIID) atau biasa dikenal sebagai amputee syndrome merupakan penyakit yang membuat seseorang percaya dirinya adalah penyandang disabilitas. Dengan kata lain, anggota tubuh yang sebenarnya masih sehat harus dipotong karena tidak sesuai dengan kondisi disabilitas Anda.

Seorang wanita bernama Jewel Shuping mengaku mengidap BIID. Dalam wawancara oleh Barcroft TV, ia mengatakan dirinya seharusnya buta dan tidak memiliki penglihatan.

Akibatnya Jewel menuangkan cairan pemutih ke matanya sendiri agar ia buta dan akhirnya belajar membaca dan menulis huruf braille.

Pada tahun 2000, seorang dokter asal Skotlandia mengamputasi kaki dua orang pasien BIID. Tidak ada penyakit atau gangguan apapun di kedua kaki mereka. Hanya saja memang mereka merasa kakinya seharusnya tidak ada.

Tindakan ini sangat kontroversial dan mendapat kecaman dari dunia kedokteran internasional.

(mrs/vit)

Berita Terkait