Rabu, 08 Jun 2016 12:32 WIB

Sebelum Jalani Operasi Bariatrik, Pasien Juga Perlu Konsultasi ke Psikiater

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Foto: Thinkstock
Jakarta - Bedah bariatrik di antaranya Laparoscopic Sleeve Gastrectomy (LSG) menjadi salah satu alternatif untuk menurunkan berat badan, ketika diet, olahraga, dan pengaturan gaya hidup dinilai tak lagi membuahkan hasil. Selain persiapan fisik, persiapan psikis juga penting bagi pasien.

Untuk itu, sebelum menjalani prosedur pemotongan lambung hingga tinggal 25-30 persen ini, penting bagi pasien untuk berkonsultasi dulu dengan psikiater. Demikian disampaikan dr Errawan R. Wiradisuria, SpB(K)BD dari Siloam Hospitals Kebon Jeruk (SHKJ).

"Untuk menjalani prosedur ini, pasien tidak boleh main-main. Sehingga sebelumnya perlu diperiksa psikiater supaya benar-benar mantap. Kadang ada pasien yang nggak yakin, jadi maju-mundur gitu mau operasi apa nggak," tutur dr Errawan baru-baru ini.

Bukan tanpa alasan, pentingnya menilai kemantapan hati pasien untuk menjalani prosedur ini karena dikatakan dr Errawan LSG bersifat irreversible. Ketika lambung sudah dipotong dan sebagian dibuang, maka tidak bisa disambung lagi.

Baca juga: Selepas Operasi Bariatrik, Penglihatan Wanita Ini Malah Kabur

Konsultasi ke psikiater juga guna memastikan apakah pasien berkomitmen untuk menjalani pemeriksaan kesehatan secara berkala setidaknya selama 3-5 tahun pasca operasi. Ketika kejiwaan pasien mantap, maka operasi bisa dilakukan.

"Pokoknya pasien benar-benar yakin dia niat ingin kurus dengan segala risiko. Mau ubah gaya hidupnya juga. Sebetulnya apapun jenis operasi kan kita harus kontrol diri sendiri misalnya pasca operasi dengan mengurangi makanan manis dan berhenti merokok," tambah dr Errawan.

Untuk itu, pada pasien dengan psikologis tidak stabil maka tidak dianjurkan menkalani prosedur ini. Kriteria lain pasien yang tidak disarankan melakukan prosedur ini di antaranya yang memiliki masalah berat lain seperti komplikasi pada paru atau jantung, kemudian lumpuh. Sementara, mereka yang bukan calon pasien salah satunya mereka yang tidak mau berhenti merokok.

Pasalnya, merokok bisa memicu luka pada bekas sambungan operasi sehingga tingkatkan risiko terjadinya gastroesophageal reflux disease (GERD). Ibu hamil, pengonsumsi alkohol dan obat-obatan terlarang, serta tidak punya motivasi untuk hidup sehat juga termasuk bukan calon pasien bedah bariatrik.

"Siapa saja yang bisa melakukan prosedur ini? Orang dengan Body Mass Index (BMI) di atas 35 atau BMI di atas 30 dengan adanya penyulit (co-morbid). Usianya pun 18-65 tahun karena kalau terlalu sepuh lebih berisiko sedangkan kalau terlalu muda diharap masih bisa ubah gaya hidup dia ke depannya. Sebelum operasi, dipastikan pula kondisi lima organ vital yaitu otak, jantung, paru, hati, ginjalnya baik," pungkas dr Errawan.

Baca juga: Studi Sebut Operasi Bariatrik Bisa Tingkatkan Kualitas Kehidupan Seksual

(rdn/vit)