Prinsip Triase mengharuskan UGD untuk mengelompokkan pasien berdasarkan berat ringannya kasus, harapan hidup dan tingkat keberhasilan yang akan dicapai sesuai dengan standar pelayanan UGD yang dimiliki. Inilah yang kadang membuat layanan di UGD terasa lambat.
"Setiap pasien masuk gawat darurat pasti melalui triase untuk menentukan keseriusan pasien atau korban tersebut," kata Rahmawati Husein, Ph D, Program Koordinator Nasional Hospital Preparedness and Community Readiness for Emergency and Disaster (HPCRED).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Saat Terjadi Bencana, Ini yang Harus Dilakukan Rumah Sakit
"Dokter UGD yang akan men-skrining pasien tersebut apakah dia hijau, merah, atau merah melalui pengecekan. Misalnya dari cara pernapasan atau denyut nadi pasien tersebut," lanjut Rahmawati saat ditemui dalam konferensi pers 'Komitmen Muhammadiyah bersama Pemerintah Australia, Kementerian Kesehatan, BNPB, PERSI, KARS untuk Mendukung Penerapan Program Rumah Sakit Aman di Indonesia' di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (7/6/2016).
Selain pada UGD, sistem ini juga diterapkan pada saat terjadinya bencana. Maka dari itu perlunya pelatihan basic life supprot yang tidak hanya pada dokter atau perawat saja, tetapi juga pada calon dokter maupun calon perawat.
"Basic life support training juga bisa dilatih pada calon dokter atau perawat sesuai dengan kapasitas mereka masing-masing," kata Rahmawati yang juga dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta tersebut.
Pada kondisi bencana, tenaga medis akan melakukan skrining berdasarkan tingkat kegawatan sehingga bisa dipilih mana korban yang bisa ditolong langsung di lapangan dan mana korban yang harus dibawa ke rumah sakit.
Baca juga: Mengenal Triage, Garis 4 Warna untuk Arah Evakuasi Pasien di UGD
(vit/vit)











































