Tak berapa lama kemudian, penyanyi keturunan Pakistan-Inggris itu pun menyampaikan permintaan maaf lewat akun Twitter dan Instagram pribadinya. "Unfortunately, my anxiety that has haunted me throughout the last few months around live performances has gotten the better of me. With the magnitude of the event, I have suffered the worst anxiety of my career," tulis Malik.
Dalam pernyataan itu, Malik mengaku tengah mengalami ansietas terburuk sepanjang karirnya, apalagi festival musik di mana Malik dijadwalkan tampil merupakan even besar, sehingga sang penyanyi merasa cemas tak bisa memberikan penampilan terbaik di depan para penggemarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bila tidak dikendalikan, keseharian seorang penyandang ansietas bisa terganggu, bahkan terhenti. "Kondisi ini dapat meningkatkan risiko disabilitas, rendahnya kualitas hidup hingga bunuh diri," ungkap Olivia Remes, peneliti ansietas dari University of Cambridge.
Berikut fakta-fakta penting tentang gangguan ansietas, seperti dikutip dari Huffington Post, Selasa (14/6/2016).
Baca juga: Studi Ungkap Apa yang Terjadi Pada Otak Pengidap Gangguan Kecemasan
1. Wanita berpeluang lebih besar untuk terkena gangguan ansietas ketimbang pria dengan rasio 1,9 : 1, dan kecenderungan ini sama-sama bisa ditemukan di negara maju maupun berkembang.
2. Tak peduli apapun latar belakang kulturnya, gangguan ansietas lebih sering ditemukan pada mereka yang berumur di bawah 35 tahun. Menariknya, peneliti menemukan hanya di Pakistan yang gangguan ansietasnya lebih banyak ditemukan pada paruh baya.
3. Secara global, gejala ansietas mudah terlihat pada pecandu opioid atau pereda nyeri (2-67 persen). Begitu juga dengan mereka yang mengalami kecanduan pada internet dan judi. Menurut penelitian, 37 persen pecandu judi dilaporkan mengalami gangguan ansietas, sedangkan pada pecandu internet (mayoritas di Asia), gejala kecemasan tampak dua kali lebih tinggi dibanding mereka yang tidak kecanduan.
4. Ansietas juga bisa muncul pada mereka yang mengidap gangguan mental dan saraf, di antaranya gangguan bipolar (13-28 persen), skizofrenia (12 persen), dan multiple sclerosis (32 persen). Bahkan pada penyakit yang tidak ada hubungannya dengan kondisi mental, gejala ansietas juga banyak ditemukan, utamanya pasien penyakit kronis, seperti penyakit kardiovaskular (2-50 persen), kanker (15-23 persen), gangguan pernapasan, dan diabetes. Bahkan risikonya juga bisa menular ke penyintas (18 persen) maupun pasangannya (40 persen).
Baca juga: 15-30 Persen Pekerja Indonesia Pernah Alami Gangguan Jiwa
5. Pada pasien penyakit kronis yang tidak mematikan seperti diabetes, gejala ansietas juga sering terlihat. Secara umum, efek ini lebih kuat terlihat pada pasien wanita dengan prevalensi mencapai dua kali lipat (55 persen versus 33 persen).
6. Masa lalu traumatis dapat menjelaskan mengapa tingkat ansietas seseorang begitu tinggi. Di antaranya seperti yang terlihat pada sejumlah studi terhadap veteran perang di Inggris dan AS. Begitu pula pada mereka yang mempunyai riwayat pelecehan seksual, kecenderungan ansietasnya berkisar antara 2-82 persen.
7. Ibu hamil dan yang baru saja melahirkan mempunyai kecenderungan ansietas dan obsessive compulsive disorder yang cukup tinggi dibanding populasi secara umum, terutama pada wanita muda.
8. Kelompok-kelompok tertentu lebih rentan mengalami ansietas, seperti lesbian, gay dan transgender (LGBT), terutama pada wanita (3-39 persen). Sedangkan untuk lansia, gejala ansietas umum ditemukan pada mereka yang mengalami penurunan kognitif seperti gangguan daya ingat (11-75 persen). Bahkan bisa merembet ke pendampingnya yang dilaporkan mengalami ansietas sebesar 4-77 persen. (lll/vit)











































