Waspadai Warning Sign Seperti Ini Agar Anak yang Kena DBD Tak Alami Shock

Waspadai Warning Sign Seperti Ini Agar Anak yang Kena DBD Tak Alami Shock

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Kamis, 16 Jun 2016 15:01 WIB
Waspadai Warning Sign Seperti Ini Agar Anak yang Kena DBD Tak Alami Shock
Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta - Terdapat tiga fase Demam Berdarah Dengue (DBD) yakni fase demam, kritis, dan penyembuhan. Pada fase kritis, ada risiko anak mengalami shock dan terjadi kebocoran plasma hingga terjadi perdarahan. Untuk itu, orang tua perlu mewaspadai warning sign yang muncul.

"Tiga hari panas, saat fase kritis demamnya turun. Bukan sembuh tapi bisa saja mau shock. Ketika demam anak turun tapi dia loyo, nggak ada perbaikan klinis ditambah mual muntah dan dehidrasi, segera bawa ke rumah sakit supaya dapat pertolongan," kata Ketua Indonesian Technical Advosry Group on Immunization (ITAGI) Prof Dr dr Sri Rezeki Hadinegoro, SpA(K).

Warning sign lain yang mesti diperhatikan orang tua adalah demam anak sudah turun tapi ia mengalami nyeri perut. Kondisi ini dikatakan Prof Sri bisa terjadi karena ada perdarahan di perut. Kemudian, tidak ada urine selama 4 sampai 6 jam lalu wajah anak pucat dan tangan serta kakinya dingin. Hal itu disampaikan Prof Sri di sela-sela Peringatan ASEAN Dengue Day ke-6 di Hotel Grand Sahid Jaya, Jl Jend Sudirman, Jakarta, Rabu (15/6/2016).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Prof Sri menekankan, dengan memastikan gejala yang muncul maka DBD bisa ditangani lebih cepat sehingga shock dan perdarahan bisa dihindari. Gejala DBD yang umumnya muncul adalah demam lebih dari 38,5 celcius selama kurang dari 7 hari, timbul ruam, ada nyeri di di kepala, belakang mata, otot, dan persendian, mual muntah, tidak nafsu makan, dan pada anak perempuan darah haidnya lebih banyak.

Baca juga: Trik Agar Anak Tak Mudah Digigit Nyamuk Aedes Aegypti di Musim Pancaroba

Sindrom shock dengue sendiri terbagi menjadi tiga. Pertama, shock terkompensasi di mana tubuh masih bisa mengadakan kompensasi sistolik. Namun, dalam beberapa jam, shock terkompensasi bisa menjadi shock dekompensasi di mana asupan oksigen tidak mencukupi dan akibatnya, bisa terjadi gangguan pembekuan darah serta trombositopenia (kadar trombosit terlalu rendah).

Selanjutnya, bisa terjadi profound shock di mana terhadi kegagalan sirkulasi darah dan kegagalan fungsi organ yang menyebabkan terjadinya perdarahan hebat.

"Tanpa pengobatan tepat dan segera, kematian pun terjadi dengan cepat. Makanya diistilahkan orang Jepang DBD ini seperti tsunami, datang tiba-tiba dan dengan cepat bisa menimbulkan kematian," kata Prof Sri.

Ia menambahkan, dengue amat ditakuti karena makin sering seseorang tergigit, makin berbahaya. Ada teori di mana seorang individu saat digigit kedua kalinya akan terjadi kompleks virus dan antibodi di mana terjadi gangguan sel trombosit dan gangguan sel endotel yang melapisi dinding luar pembuluh darah.

"Akibatnya, sistem komplemen dirusak hingga terjadi perdarahan dan shock. Saat terjadi shock, pasien bisa kekurangan oksigen dan timbul kematian. Sehingga dalam penatalaksanaan DBD, pemberian cairan serta oksigen yang cukup amat penting," pungkasnya.

Baca juga: Pasien DBD Sering Terlambat, 30 Persen Datang Sudah pada Fase Kritis

(rdn/vit)

Berita Terkait