"Tiga hari panas, saat fase kritis demamnya turun. Bukan sembuh tapi bisa saja mau shock. Ketika demam anak turun tapi dia loyo, nggak ada perbaikan klinis ditambah mual muntah dan dehidrasi, segera bawa ke rumah sakit supaya dapat pertolongan," kata Ketua Indonesian Technical Advosry Group on Immunization (ITAGI) Prof Dr dr Sri Rezeki Hadinegoro, SpA(K).
Warning sign lain yang mesti diperhatikan orang tua adalah demam anak sudah turun tapi ia mengalami nyeri perut. Kondisi ini dikatakan Prof Sri bisa terjadi karena ada perdarahan di perut. Kemudian, tidak ada urine selama 4 sampai 6 jam lalu wajah anak pucat dan tangan serta kakinya dingin. Hal itu disampaikan Prof Sri di sela-sela Peringatan ASEAN Dengue Day ke-6 di Hotel Grand Sahid Jaya, Jl Jend Sudirman, Jakarta, Rabu (15/6/2016).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Trik Agar Anak Tak Mudah Digigit Nyamuk Aedes Aegypti di Musim Pancaroba
Sindrom shock dengue sendiri terbagi menjadi tiga. Pertama, shock terkompensasi di mana tubuh masih bisa mengadakan kompensasi sistolik. Namun, dalam beberapa jam, shock terkompensasi bisa menjadi shock dekompensasi di mana asupan oksigen tidak mencukupi dan akibatnya, bisa terjadi gangguan pembekuan darah serta trombositopenia (kadar trombosit terlalu rendah).
Selanjutnya, bisa terjadi profound shock di mana terhadi kegagalan sirkulasi darah dan kegagalan fungsi organ yang menyebabkan terjadinya perdarahan hebat.
"Tanpa pengobatan tepat dan segera, kematian pun terjadi dengan cepat. Makanya diistilahkan orang Jepang DBD ini seperti tsunami, datang tiba-tiba dan dengan cepat bisa menimbulkan kematian," kata Prof Sri.
Ia menambahkan, dengue amat ditakuti karena makin sering seseorang tergigit, makin berbahaya. Ada teori di mana seorang individu saat digigit kedua kalinya akan terjadi kompleks virus dan antibodi di mana terjadi gangguan sel trombosit dan gangguan sel endotel yang melapisi dinding luar pembuluh darah.
"Akibatnya, sistem komplemen dirusak hingga terjadi perdarahan dan shock. Saat terjadi shock, pasien bisa kekurangan oksigen dan timbul kematian. Sehingga dalam penatalaksanaan DBD, pemberian cairan serta oksigen yang cukup amat penting," pungkasnya.
Baca juga: Pasien DBD Sering Terlambat, 30 Persen Datang Sudah pada Fase Kritis
(rdn/vit)











































