Dengan dikaryakannya Peper sebagai resepsionis di rumah sakit, ini merupakan kali pertama robot semacam itu terjun ke area kesehatan dan langsung menjadi petugas di RS. Sebelumnya, robot semacam ini sudah banyak dipekerjakan di pusat perbelanjaan, bank, maupun stasiun kereta api. Demikian dilansir BBC.
Robot untuk keperluan rumah sakit harganya lebih mahal ketimbang robot dengan model dasar. Jika model dasar dibanderol sekitar Rp 24,7 juta, maka yang berbasis rumah sakit harganya sekitar Rp 454 juta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
RS CHR Citadelle berharap bisa menjadi RS yang paling futuristik di dunia selama 10 tahun ke depan. Tak cuma arsitekturnya yang diperhatikan, kamar di masa depan pun sudah dipikirkan. Selain itu RS ini berniat menerjunkan lebih banyak robot dalam 10 tahun ke depan.
Baca juga: Robot 'Origami' Ini Bisa Bantu Angkat Objek yang Tertelan Tanpa Operasi
Pepper sendiri merupakan robot dengan tinggi 1,2 meter yang bisa mengenali suara manusia dalam 20 bahasa. Robot berwarna putih ini juga bisa mendeteksi apakah sedang berbicara dengan laki-laki, perempuan, maupun anak-anak.
Agar bisa menjalankan kerja sebagai resepsionis dengan baik, Pepper dilengkapi software dari Zora Bots, perusahaan asal Belgia. Dengan software ini, bisa diketahui jika ada masalah yang terjadi pada saat Pepper bertugas. Robot ini menuai sukses besar bagi produsennya, Softbank dan partnernya, Aldebaran. Sebab di Jepang, robot ini terjual dengan cepat.
Sebelumnya, RS CHR Citadelle di Liege dan RS AZ Damiaan di Ostend, telah menggunakan robot yang lebih kecil. Robot Nao yang juga buatan Softbank bertugas di bangsal anak dan geriatri. Kehadiran robot ini diklaim mampu mengatasi ketakutan banyak pasien yang akan menghadapi operasi.
Bagaimana dengan Anda, mau dilayani robot saat berkunjung ke rumah sakit?
Baca juga: Bantu Anak Pahami Penyakitnya, Robot Diabetes Dikembangkan Peneliti
(vit/vit)











































