Dirangkum detikHealth dari berbagai sumber, berikut ini robot-robot yang memberikan warna dan sekaligus memberi manfaat bagi dunia kesehatan:
1. Robot Pepper
|
Foto: Kiyoshi Ota/Bloomberg/Getty Images
|
Di RS CHR Citadelle di Liege, Pepper akan berada di ruang tunggu. Sedangkan di RS AZ Damiaan di Ostend, Pepper akan menemani pengunjung menuju ke bagsal RS yang tepat sesuai dengan keluhan penyakitnya.
Agar bisa menjalankan kerja sebagai resepsionis dengan baik, Pepper dilengkapi software dari Zora Bots, perusahaan asal Belgia. Dengan software ini, bisa diketahui jika ada masalah yang terjadi pada saat Pepper bertugas. Robot ini menuai sukses besar bagi produsennya, Softbank dan partnernya, Aldebaran. Sebab di Jepang, robot ini terjual dengan cepat.
2. Robot Caretaker Pasien Demensia
|
Foto: REUTERS/Edgar Su
|
Robot dengan tinggi badan 1,7 meter ini diciptakan oleh peneliti dari Institute of Media Innovation, Nanyang Technological University, Singapura.
Piranti lunak yang dimiliki Nadine membuatnya bisa mengekspresikan beberapa jenis emosi dan mengingat pembicaraan. Selain itu, Nadine juga bisa menginisiasi percakapan, bercerita dan memainkan beberapa jenis permainan yang mudah.
3. Robot Anak Pendeteksi Diabetes
|
Foto: BBC
|
Dilengkapi dengan kepintaran buatan yang telah dikembangkan dalam proyek global ALIZ-E, Robin dapat bergerak sendiri berinteraksi dengan lingkungan sekitar layaknya balita. Ia bisa minta ditemani bermain bila bosan, menari, dipeluk, dan makan kepada orang sekitarnya.
Robin juga dilengkapi dengan kondisi 'diabetes'. Saat bermain ia akan sesekali menunjukkan gejala dan anak diharapkan dapat mengenali dan mengoreksinya. Robin diharapkan bisa memberi contoh dan secara tak langsung membuat anak dengan diabetes sadar akan penyakitnya.
4. Robot Kucing Pengusir Kesepian
|
Foto: JustoCat
|
Prof Lars Asplund dari Malardalen University, Swedia, yang mengembangkan robot ini mengatakan dari riset terhadap para pasien demensia berikut para pengasuhnya, ternyata JustoCat tak hanya bermanfaat bagi pasien demensia tapi juga pengasuhnya. Sebab para pengasuh bisa menggunakan robot ini untuk menenangkan pasien.
Robot ini juga merangsang pasien untuk berkomunikasi dan berinteraksi, serta mencegah pasien melakukan tindakan repetitif.
Meski robot kucing yag bisa bertingkah layaknya kucing betulan ini sangat imut, tapi ini bukanlah mainan, melainkan alat kesehatan seperti halnya stetoskop atau termometer. Karena itu juga harganya cukup mahal, yakni sekitar Rp 19 juta.
5. Robot Boneka yang Bisa Bicara untuk Cegah Kepikunan
|
Foto: Asahi Shimbun
|
Boneka robot sejenis antara lain Yumenoko Neruru (Child of Dream Neruru) yang dapat membawakan 50 lagu; Unazuki Kabochan (Kabochan Nodding) dan Primopuel yang bisa memanggil nama pemilik mereka.
Menurut penelitian tahun 2012 oleh peneliti dari Osaka City University Graduate School of Medicine, daya ingat dan kemampuan para lansia dalam menilai sesuatu meningkat, terutama bagi kelompok lansia yang diberi boneka yang bisa bicara, dalam hal ini Kabochan.
Menurut salah satu peneliti, Masaaki Tanaka, robot ini membantu mencegah demensia atau kepikunan pada para lansia tersebut.
"Bicara adalah cara termudah untuk menstimulasi atau merangsang otak Anda dan boneka-boneka ini setidaknya memberikan alternatif agar para lansia ini bisa rutin berbicara," imbuh pakar neurologi, Kimihiro Yoneyama.
6. Robot yang Bantu Rehabilitasi Pasien Anak
|
Foto: Facebook Royal Children's Hospital Melbourne
|
Robot Nao dijadikan bagian ujicoba sebagai media untuk membantu rehabilitasi anak-anak yang belajar berjalan atau bergerak usai terlibat kecelakaan, stroke, maupun cedera tulang belakang. Uji coba digelar di Royal Children's Hospital, Australia.
Efektivitas penggunaan Nao akan dibandingkan dengan fisioterapi standar. Nah, robot ini bertugas menginstruksikan anak melakukan gerakan tertentu melalui permainan dan latihan untuk membangun kekuatan dan keseimbangan.
Nao akan memberi contoh bagaimana mengangkat kaki, berdiri dan berbaring agar memudahkan anak untuk mengikutinya. Menurut fisioterapis Jo Butchart, Nao mampu membantu dan mendorong anak-anak melakukan pengulangan latihan dan bahkan menambah latihannya untuk membangun kekuatan dan mengembalikan keterampilan motoriknya.
Robot ini dikembangkan oleh Digital Frontiers Lab di Swinburne University yang berkonsultasi dengan ahli fisioterapi dan didanai Komisi Kecelakaan Transportasi.
Halaman 8 dari 7











































