Jumat, 24 Jun 2016 08:02 WIB

Sempat 'Mati Suri', Telemedicine di Indonesia Bakal Dihidupkan Lagi

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Foto: Thinkstock
Jakarta - Telemedicine bisa diimplementasikan di Indonesia. Meskipun, saat ini cakupan penerapan telemedicine di Indonesia masih dalam tahap uji coba.

"Dulu tahun 2012 udah pernah diuji coba, tapi di tahun 2014 ibaratnya mati suri. Makanya target tahun ini selesai regulasinya, lalu bisa diterapkan lagi," kata dr Tri Hesty W.M, SpM, Direktur Pelayanan Kesehatan Rujukan Kemenkes RI.

Ia menambahkan, telemedicine yang sudah diuji coba adalah teleradiologi, telekardiologi (EKG), dan video conference. Uji itupun dalam tahapan diagnostik, belum sampai pada pengobatan atau konsultasi. Demikian disampaikan dr Hesty dalam diskusi publik di Gastromaquia, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (23/6/2016).

Baca juga: Mana Lebih Berisiko Kena Penyakit Kardiovaskular: Orang Desa atau Orang Kota?

Dulunya, telemedicine pernah dilaksanakan di RS Cipto Mangunkusumo sebagai RS pengampu dengan rumah sakit (RS) kecil di daerah lain misalnya RS di Natuna sebagai RS yang diampu.

"Tapi ya itu tadi, seperti mati suri. Lama-lama yang nanya dari faskes yang diampu banyak, doker jawabnya jadi banyak kan, terus nanya jasanya mana nih. Nah, ini soal jasa kan memang ada konsultasi ya, itu belum diatur. Ini regulasi sedang kita atur apalagi era JKN ini kan modelnya paket," lanjut dr Hesty.

Saat ini, pemerintah melalui Kemenkes dikatakan dr Hesty masih dalam taraf melihat cakupan fasilitas di fasyankes, di mana RS yang bisa di-mapping. Telemedicine sendiri merupakan layanan kesehatan dasar dan rujukan antar fasilitas layanan kesehatan di mana ada tenaga kesehatan pengampu dan diampu dalam jarak jauh melalui media teknologi dan informasi.

Baca juga: Menkes Sebut Cuma 20 Persen Orang Indonesia yang Ngerti Kesehatan

(rdn/vit)