5 Fakta Penting Seputar Amoeba Pemakan Otak

5 Fakta Penting Seputar Amoeba Pemakan Otak

Firdaus Anwar - detikHealth
Rabu, 29 Jun 2016 07:44 WIB
5 Fakta Penting Seputar Amoeba Pemakan Otak
Naegleria Fowleri (Foto: CDC-AS)
Jakarta - Pertengahan Juni lalu seorang gadis berusia 18 tahun dikabarkan meninggal akibat infeksi amoeba pemakan otak saat melakukan olahraga arung jeram di North Carolina, Amerika Serikat. Petugas kesehatan masih melakukan investigasi namun diduga kuat ia terpapar ketika rakitnya terbalik.

Pelaku dari kejadian ini adalah organisme bersel tunggal bernama Naegleria fowleri. Apa itu dan bagaimana caranya bisa menginfeksi? berikut beberapa fakta kunci seperti dikutip dari Live Science:

Baca juga: Berenang di Sungai, Atlet Remaja Terserang Amoeba Pemakan Otak

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Hidup di perairan hangat

Amoeba Naegleria fowleri senang hidup di perairan hangat seperti danau, sungai, atau kolam mata air panas. Pada beberapa kasus ia bahkan bisa juga ditemukan di kolam renang yang tak diberikan klorin dengan baik.

Lembaga pengendalian dan pencegahan penyakit Amerika Serikat (CDC) mengatakan amoeba ini bisa bertahan hidup di air dengan suhu mencapai 46 derajat celsius.

Naegleria fowleri namun diketahui tak ditemukan ada di air laut.

2. Masuk lewat hidung

Infeksi terjadi bukan karena seseorang tak sengaja menelan air yang terkontaminasi. Karena apabila kejadiannya seperti itu amoeba akan masuk saluran pencernaan tak jadi ancaman.

Masalah muncul apabila air tak sengaja masuk hidung. Dari sana amoeba dapat masuk otak menghancurkan jaringan yang ada dan memicu peradangan. Biasanya kalau sudah demikian kasus infeksi akan berujung pada kematian.

Gejala awal di antaranya sakit kepala, demam, dan muntah-muntah yang terjadi sejak hari pertama hingga sembilan setelah infeksi.

3. Hampir selalu fatal

Infeksi akibat Naegleria fowleri hampir semuanya berujung pada kematian. CDC mengatakan dari sekitar 138 orang pada tahun 1962-2015 yang tercatat mengalami infeksi, hanya tiga di antaranya yang mampu bertahan hidup. Ini artinya tingkat mortalitas ada di angka 98 persen.

Individu terakhir yang diketahui selamat dari serangan amoeba ini adalah gadis 12 tahun dari Arkansas pada tahun 2013. Saat itu dokter memberikannya berbagai macam obat antifungi dan juga obat eksperimen bernama miltefosine yang awalnya dikembangkan untuk kanker payudara.

4. Kasusnya sedikit

Meski kasus infeksi amoeba ini mematikan, jumlah kasusnya tak begitu banyak. Contoh di Amerika Serikat saja sepanjang tahun 2006 hingga 2015 oleh CDC tercatat hanya ada 37 kasus.

Bila dibandingkan dengan jumlah orang yang berenang setiap tahunnya, CDC menyebut 'tenggelam' adalah hal yang lebih harus diwaspadai karena memakan korban hingga sekitar 34 ribu jiwa pada tahun 2001-2010.

5. Sulit dibasmi

Peneliti hingga sekarang tidak tahu bagaimana caranya untuk melenyapkan amoeba Naegleria fowleri yang muncul secara natural di sungai, danau, atau sumber air tawar lainnya. Oleh karena itu orang-orang yang berenang di tempat seperti itu harus selalu berasumsi ada risiko kecil untuk terinfeksi.

CDC menyarankan apabila memang ingin berenang maka sebaiknya pakai penjepit hidung atau menjaga agar kepala selalu di atas permukaan air guna mencegah kemungkinan amoeba masuk ke hidung.

(fds/vit)

Berita Terkait