dr M. Adib Khumaidi, SpOT dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengatakan mudik dengan sepeda motor boleh dilakukan asal mematuhi anjuran yang diberikan. Salah satunya adalah tidak membawa barang berlebihan di sepeda motor.
"Kalau mudik itu kan ada yang motornya dipasang galah di samping untuk taruh barang-barang. Ini yang nggak boleh. Nanti kalau tersenggol kendaraan lain bisa jatuh dan kecelakaan," tuturnya kepada wartawan, baru-baru ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Solusinya, barang bisa dikirim lebih dahulu menggunakan bus atau kereta. Sehingga sepeda motor hanya dinaiki orang dan tidak berisiko mengalami kelebihan muatan yang bisa menyebabkan oleng dan jatuh.
Soal jumlah penumpang, dr Adib juga menegaskan sepeda motor bukan angkutan transportasi massal. Jumlah orang yang bisa menaiki satu motor adalah 2 orang dewasa, tidak boleh ditambah dengan 1 ataupun 2 anak kecil.
"Selain kelebihan muatan, bahaya untuk anaknya juga. Kalau anak ditaruh di depan atau di tengah antara ibu dan ayahnya, dan dia kehilangan konsentrasi atau mengantuk, bisa jatuh," tambah dr Adib.
Ia menyarankan agar anak dititipkan kepada saudara atau kerabat yang mudik dengan menggunakan mobil. Atau jika tak ada, sepeda motor beserta pemudik sekeluarga pulang kampung menggunakan kereta.
Terakhir, dr Adib berpesan agar pengemudi harus beristirahat teratur. Mudik dengan sepeda motor meningkatkan paparan polusi, panas matahari dan risiko pegal karena posisi duduk di motor. Oleh karena itu istirahat penting selain untuk mengusir kantuk juga melakukan peregangan tubuh.
"Ketika puncak mudik itu kan kita masih puasa, panas-panasan, haus, lelah. Makanya harus berhenti setiap 4 jam, istirahat, peregangan. Bisa dengan duduk atau baring-baring selama 20-30 menit. Baru setelah itu jalan lagi," pungkasnya.
Baca juga: Saat Mudik Jangan Andalkan Suplemen Vitamin C Saja, Perbanyak Makan Buah (mrs/vit)











































