Apa itu karbon dioksida, dan bagaimana keracunan bisa terjadi saat berjam-jam terjebak macet di dalam mobil?
Karbon dioksida atau CO2 merupakan gas yang tidak berbau, tidak berwarna, dan termasuk salah satu jenis gas yang jumlahnya paling berlimpah di atmosfer. Gas yang dipakai juga dalam minuman bersoda (berkarbonasi) ini memiliki nama lain 'carbonic acid gas' atau gas asam arang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tanpa ada sirkulasi udara yang baik, peningkatan konsentrasi karbon dioksida berarti juga penurunan kadar oksigen yang dibutuhkan oleh sistem pernapasan manusia. Kemampuan untuk bertahan dengan kadar oksigen yang terus menipis pada masing-masing orang tidak selalu sama. Banyak faktor yang berpengaruh, termasuk kondisi kesehatan dan fungsi paru-parunya.
Dalam 'horor' kemacetan arus mudik di jalur wilayah Brebes, Jawa Tengah, baru-baru ini, faktor kelelahan dan kekurangan cairan berdampak fatal terutama pada kelompok rentan. Di antaranya adalah anak-anak, orang-orang lanjut usia, serta pemudik dengan riwayat penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes mellitus, maupun gangguan jantung.
"Ditambah lagi kondisi kabin kendaraan yang relatif sempit serta tertutup dengan pemakaian AC (Air Conditioner) terus menerus akan menurunkan oksigen serta naiknya CO2," kata Achmad Yurianto, Kepala Pusat Krisis Kesehatan dari Kementerian Kesehatan RI, seperti dikutip pada Kamis (7/7/2016).
Baca juga: Belajar dari 'Horor Mudik', Dokter Sarankan Reschedule Perjalanan
Peningkatan konsentrasi atau kadar karbon dioksida tidak selalu mudah untuk dideteksi mengingat gas ini tidak berbau dan tidak berwarna. Namun dalam situasi seperti ini biasanya akan muncul gejala pusing, serta pernapasan cepat (hiperventilasi) untuk menetralkan darah yang perlahan menjadi lebih asam karena menghirup karbon dioksida.
Keracunan karbon dioksida perlu dibedakan dari keracunan karbon monoksida atau CO. Gas yang disebutkan terakhir berasal dari emisi bahan bakar kendaraan bermotor, dan sangat beracun karena bisa 'membajak' hemoglobin di dalam darah. Akibatnya, terjadi kerusakan fungsi organ karena hemoglobin gagal mendistribusikan suplai oksigen ke seluruh tubuh.
Baca juga: Saran Dokter Agar 'Horor Mudik' yang Tewaskan 12 Orang Tidak Terulang (up/up)











































