Kamis, 07 Jul 2016 13:23 WIB

Berjam-jam Terjebak Macet di Mobil, Keracunan CO dan CO2 Sama-sama Berbahaya

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Kemacetan di Brebes Timur (Foto: Ahmad Ziaul Fitrahudin/detikcom)
Jakarta - Sejumlah pemudik meninggal saat terjebak macet dalam arus mudik tahun ini. Salah seorang di antaranya diberitakan meninggal akibat keracunan karbon dioksida (CO2) setelah mobil yang ditumpanginya terjebak macet selama berjam-jam menjelang pintu keluar tol Brebes Timur.

Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K) dari RS Persahabatan Rawamangun mengaku sudah membaca pemberitaan terkait hal tersebut. Menurutnya memang mungkin saja ada pemudik yang meninggal karena terjebak macet berjam-jam. Namun seharusnya penyebab kematian dibuktikan melalui autopsi.

"Kalau kita baca pemberitaannya memang sama dengan gejala hipoksia. Ada pusing, rasa lelah, mual, muntah sebelum akhirnya sesak napas, kehilangan kesadaran dan meninggal dunia. Tapi untuk penyebab pastinya harus diautopsi supaya ketahuan," tutur dr Agus saat dihubungi detikHealth, Kamis (7/7/2016).

Baca juga: Belajar dari 'Horor Mudik', Dokter Sarankan Reschedule Perjalanan

Dijelaskan dr Agus, hipoksia adalah keadaan di mana tubuh mengalami kekurangan oksigen. Hal ini bisa terjadi karena menurunnya konsentrasi oksigen dan meningkatnya konsentrasi gas bersifat asfiksia yang membuat seseorang merasa tercekik akibat kekurangan oksigen.

Saat terjebak macet berjam-jam, gas asfiksia yang berada di sekitar pemudik antara lain adalah karbon monoksida dan karbon dioksida. Dua-duanya dihasilkan oleh emisi kendaraan bermotor. Jika pembakaran mesin sempurna, yang dikeluarkan adalah emisi karbon dioksida. Sementara jika tidak sempurna, hasil emisi adalah karbon monoksida yang lebih beracun.

"Kalau CO2 ini asfiksian fisik, artinya dia ada di udara bebas. Orang bernapas kan membutuhkan oksigen dan menghasilkan CO2. Ketika terjebak macet dalam mobil berjam-jam, di ruangan tertutup, konsentrasi oksigen perlahan-lahan akan turun sementara konsentrasi karbon dioksidanya otomatis naik. Ini yang memungkinkan terjadinya hipoksia tadi, ditandai dengan pusing, mual, sesak napas," urai dr Agus.

Di sisi lain, karbon monoksida atau CO merupakan asfiksian sistemik. Hal ini membuat CO lebih berbahaya daripada CO2 karena efek yang ditimbulkan langsung menyerang seluruh sistem tubuh.

"Apabila terhirup dan masuk ke dalam darah, CO akan membuat hemoglobin (sel darah merah) menyingkirkan oksigen. Akibatnya hemoglobin akan lebih kuat mengikat CO dan membuat tubuh kekurangan oksigen dalam waktu cepat," tandas dr Agus lagi.

dr Agus mengaku merasakan sendiri dampak macet 'horor' saat mudik kemarin. Ia harus menempuh perjalanan mudik dengan mobil selama 36 untuk menuju kampung halamannya di Ponorogo.

"Yang jelas kesakitan saat mudik itu tidak hanya karena polusi atau asap. Tapi stres gara-gara macet, kelelahan yang menumpuk itu juga sama bahayanya," tutupnya.

Baca juga: Bagaimana Seseorang Bisa Keracunan CO2 Saat Berjam-jam di Dalam Mobil? (mrs/up)