Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K) dari RS Persahabatan Rawamangun mengatakan saat terjebak macet berjam-jam kala mudik, kekurangan oksigen sangat rentan terjadi akibat sirkulasi udara yang buruk dalam kabin mobil yang menyalakan AC (Air Conditioner). Selain itu, polusi dari ratusan kendaraan yang berkumpul di satu titik juga sangat mengganggu kesehatan paru-paru dan sistem pernapasan.
"Pada kelompok risiko tinggi seperti bayi, anak-anak ataupun pasien penyakit jantung dan paru, konsentrasi oksigen yang menurun ditambah meningkatnya polusi udara memang bisa berakibat fatal," tutur dr Agus kepada detikHealth, Kamis (7/7/2016).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dijelaskan dr Agus, secara garis besar ada dua sifat gas polutan di udara. Pertama adalah gas yang bersifat asfiksia seperti karbon monoksida (CO) dan karbon dioksida (CO2). Jika terhirup ke dalam tubuh, gas ini membuat kandungan oksigen dalam darah berkurang dan menyebabkan sesak napas.
"Orang bernapas kan membutuhkan oksigen dan menghasilkan CO2. Ketika terjebak macet dalam mobil berjam-jam, di ruangan tertutup, konsentrasi oksigen perlahan-lahan akan turun sementara konsentrasi karbon dioksidanya otomatis naik. Ini yang memungkinkan terjadinya hipoksia tadi, ditandai dengan pusing, mual, sesak napas dan bisa kehilangan kesadaran hingga meninggal," urai dr Agus.
Pada pasien jantung dan penyakit paru yang fungsi peredaran oksigennya sudah terganggu, tentu saja kondisi ini bisa berakibat fatal. Apalagi jika dalam kondisi terjebak macet di mana fasilitas kesehatan sulit dijangkau.
Sifat berbahaya kedua pada gas adalah iritan. Gas-gas yang memiliki sifat ini memiliki efek iritasi pada tubuh, ditandai dengan adanya mata merah, mata berair, hidung gatal dan tersumbat, sakit tenggorokan, tenggorokan kering dan batuk berdahak.
"Gas-gas yang memiliki sifat ini antara lain, sulfur dioksida, nitrogen dioksida dan bahan-bahan particulate matter," tandasnya lagi.
Memang dikatakan dr Agus, paparan gas polutan tidak serta-merta membuat seseorang meninggal. Namun patut diingat, faktor kelelahan dan kekurangan cairan berdampak fatal terutama pada kelompok rentan. Di antaranya adalah anak-anak, orang-orang lanjut usia, serta pemudik dengan riwayat penyakit kronis.
"Secara garis besar berbahaya karena masyarakat mungkin tidak paham. Pusing dan mual dikira hanya kelelahan atau mabuk darat. Padahal itu juga gejala awal kekurangan oksigen dan harus ditindaklanjuti ke posko kesehatan," urainya.
Baca juga: Belajar dari 'Horor Mudik', Dokter Sarankan Reschedule Perjalanan (mrs/up)











































