Sabtu, 09 Jul 2016 11:10 WIB

'Perang Saudara' Antar Sistem Imun Bisa Jadi Solusi Penyakit Autoimun

Firdaus Anwar - detikHealth
Foto: Thinkstock
Jakarta - Penyakit autoimun seperti alergi, multiple sclerosis, asma, dan masih banyak lagi pada intinya adalah kondisi di mana sistem imun tubuh seseorang tanpa sebab yang belum diketahui berubah menjadi ganas. Sistem imun yang harusnya menyerang 'penjajah asing' seperti bakteri atau virus berbalik jadi menyerang sel sehat tubuh menimbulkan berbagai gejala.

Untuk menangani kondisi terapi yang biasanya diberikan adalah dengan obat yang bisa menurunkan kerja imunitas tubuh dengan harapan membuat reda gejala. Hal ini berfungsi tapi dengan efek samping secara keseluruhan imunitas jadi lemah membuat seseorang rentan terserang penyakit.

Terkait hal tersebut para peneliti dari Amerika Serikat berusaha untuk mencari cara baru melawan penyakit autoimun. Laporan di jurnal Science menyebut sebuah cara dengan memicu 'perang saudara' menggunakan sistem imun lainnya untuk melawan imunitas yang ganas membuahkan hasil positif pada tikus percobaan.

Baca juga: Vitiligo, Penyakit yang Bikin Kulit Memudar Jadi Warna Putih Susu

Peneliti dari University of Pennsylvania memodifikasi sistem imun yang memproduksi sel T untuk secara spesifik menyerang sistem imun lain yang ganas. Percobaan pada tikus, sistem imun sel T sukses dibuat menyerang sistem imun sel B ganas yang membuat karakteristik penyakit Pemphigus vulgaris.

"Saya pikir ini adalah masa yang sangat menarik. Kita telah memiliki cara untuk memanipulasi imunitas yang sebelumnya tak kita miliki," ujar salah satu peneliti, Michael Milone, seperti dikutip dari BBC, Sabtu (9/8/2016).

"Imunoterapi sudah mulai mengubah terapi kanker, dan sekarang kita mulai mencobanya untuk penyakit autoimun," lanjut Milone.

Peneliti yakin dalam jangka waktu dekat studi dapat mengungkap pengobatan beberapa penyakit autoimun lainnya seperti Myasthenia gravis. Hanya saja untuk penyakit seperti lupus atau multiple sclerosis perlu studi lebih panjang karena lebih kompleks.

Baca juga: Lupus Tak Halangi Perempuan untuk Hamil, Tapi Harus dalam Pengawasan Dokter (fds/up)