Dokter Waspadai 'Jerawat Super' Akibat Pasien Terlalu Lama Konsumsi Obat

Dokter Waspadai 'Jerawat Super' Akibat Pasien Terlalu Lama Konsumsi Obat

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Kamis, 14 Jul 2016 08:04 WIB
Dokter Waspadai Jerawat Super Akibat Pasien Terlalu Lama Konsumsi Obat
Foto: Thinkstock
Jakarta - Antibiotik kerap menjadi pilihan terakhir untuk meredakan jerawat yang muncul dan membandel. Kini dokter memperingatkan bahaya mengonsumsi antibiotik terlalu lama.

Peringatan ini dikeluarkan British Association of Dermatologists dalam pertemuan tahunan mereka baru-baru ini. Dalam pertemuan itu disepakati, antibiotik yang diresepkan untuk mengobati jerawat lebih dari tiga bulan bisa memunculkan resistensi.

Artinya, akan muncul 'jerawat super' yang tidak mempan diobati dengan antibiotik lagi. Persoalan ini muncul ketika peneliti melihat fenomena di mana rata-rata pasien baru dirujuk ke dokter spesialis kulit setelah mengonsumsi antibiotik selama 6,5 bulan. Bahkan ada pula pasien yang menunggu sampai tujuh bulan sebelum akhirnya dirujuk ke dokter kulit.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini bisa memicu munculnya Propionibacterium acnes, salah satu jenis bakteri yang terkandung dalam jerawat. Bakteri ini kebal pada antibiotik sehingga pada kasus tertentu, jerawatnya akan sulit diobati," kata peneliti, Dr Alison Layton seperti dilaporkan BBC.

Lebih jauh lagi, Layton khawatir jika penggunaan antibiotik oral berkepanjangan juga mendorong resistensi dari jenis bakteri lain, bahkan yang tidak berkaitan dengan jerawat sekalipun.

Baca juga: Agar Wajah Tak Bolong-bolong, Jangan Pencet Jerawat yang Muncul di Wajah

"Kalau antibiotiknya sudah tidak bekerja dalam tiga bulan, pasien juga harusnya langsung dirujuk ke dokter kulit," saran Layton lagi.

Tak hanya itu, menunda penanganan juga berdampak pada kerusakan jaringan kulit yang ditumbuhi jerawat.

Untuk mengobati jerawat sendiri sebenarnya tak melulu perlu antibiotik. Bila jerawatnya tergolong ringan, masih bisa digunakan krim khusus pereda jerawat. Biasanya krim ini dipakai bersamaan dengan konsumsi antibiotik oral untuk mengurangi peluang terjadinya resistensi.

"Begitu sudah terkendali, hentikan konsumsi antibiotiknya dan lanjutkan dengan krim. Dokter akan membantu memantau agar tiap pengobatan yang diberikan efektif untuk tiap pasien," pungkas Layton.

Baca juga: Wajah Bolong-bolong Bekas Jerawat, Bisakah Kembali Mulus?


(lll/vit)

Berita Terkait