Peringatan ini dikeluarkan British Association of Dermatologists dalam pertemuan tahunan mereka baru-baru ini. Dalam pertemuan itu disepakati, antibiotik yang diresepkan untuk mengobati jerawat lebih dari tiga bulan bisa memunculkan resistensi.
Artinya, akan muncul 'jerawat super' yang tidak mempan diobati dengan antibiotik lagi. Persoalan ini muncul ketika peneliti melihat fenomena di mana rata-rata pasien baru dirujuk ke dokter spesialis kulit setelah mengonsumsi antibiotik selama 6,5 bulan. Bahkan ada pula pasien yang menunggu sampai tujuh bulan sebelum akhirnya dirujuk ke dokter kulit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih jauh lagi, Layton khawatir jika penggunaan antibiotik oral berkepanjangan juga mendorong resistensi dari jenis bakteri lain, bahkan yang tidak berkaitan dengan jerawat sekalipun.
Baca juga: Agar Wajah Tak Bolong-bolong, Jangan Pencet Jerawat yang Muncul di Wajah
"Kalau antibiotiknya sudah tidak bekerja dalam tiga bulan, pasien juga harusnya langsung dirujuk ke dokter kulit," saran Layton lagi.
Tak hanya itu, menunda penanganan juga berdampak pada kerusakan jaringan kulit yang ditumbuhi jerawat.
Untuk mengobati jerawat sendiri sebenarnya tak melulu perlu antibiotik. Bila jerawatnya tergolong ringan, masih bisa digunakan krim khusus pereda jerawat. Biasanya krim ini dipakai bersamaan dengan konsumsi antibiotik oral untuk mengurangi peluang terjadinya resistensi.
"Begitu sudah terkendali, hentikan konsumsi antibiotiknya dan lanjutkan dengan krim. Dokter akan membantu memantau agar tiap pengobatan yang diberikan efektif untuk tiap pasien," pungkas Layton.
Baca juga: Wajah Bolong-bolong Bekas Jerawat, Bisakah Kembali Mulus?
(lll/vit)











































