Minggu, 24 Jul 2016 15:05 WIB

Ini Dia Sosok di Balik Suksesnya Terapi Pecandu Narkoba Puskesmas Kedung Badak

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Foto: reza
Jakarta - Kesuksesan program terapi rumatan metadon (PTRM) di Puskesmas Kedung Badak tak bisa dilepaskan dari sosok wanita paruh baya ini. Ibu Nunung, begitu ia biasa disapa, merupakan sosok ibu yang mengayomi seluruh pasien rumatan metadon.

Siti Nur Faizah, SKM, atau yang akrab disapa Ibu Nunung, merupakan Koordinator Pelayanan PTRM di Puskesmas Kedung Badak. Saat detikHealth bersama rombongan wartawan dan pengurus Persaudaraan Korban NAPZA Indonesia menyambangi kliniknya, Ibu Nunung nampak sedang mengobrol santai dengan para pasien atau klien klinik metadon.

"Kalau saya prinsipnya kekeluargaan saja. Saya sebagai ibu mereka di sini. Ya tempat curhat, tempat dimarah-marahin juga kadang-kadang. Yang penting klien tetap nyaman dan mau datang setiap hari," tutur Ibu Nunung, kepada rombongan wartawan, di Klinik Rumatan Metadon, Puskesmas Kedung Badak, Jl KH Sholeh Iskandar, Tanah Sereal, Bogor, Jawa Barat.

Klien merupakan istilah yang digunakan untuk para pasien klinik rumatan metadon. Dengan kata lain, klien merupakan para pecandu narkotika dan zat adiktif lainnya (NAPZA) yang sedang menjalani terapi substitusi oral menggunakan metadon.



Terapi substitusi oral merupakan pilihan bagi para pecandu NAPZA jenis opiod seperti putaw dan heroin. Ibu Nunung menjelaskan bahwa para klien menjalani terapi substitusi zat, dari heroin dan putaw menjadi metadon, dan perlahan-lahan dosis zatnya dikurangi.

Satu dosis metadon dihargai Rp. 7.000. Rp 6.000 merupakan bayaran yang diambil Puskesmas sesuai peraturan yang berlaku, sementara Rp. 1.000 merupakan sumbangan kolektif dari klien yang nantinya digunakan untuk membiayai acara komunitas dan santunan jika ada klien yang sakit atau meninggal.

Pemberian dosis pun disesuaikan dengan kebutuhan klien. Metadon diberikan dalam gelas plastik kecil yang dicampur dengan sirup untuk mengurangi rasa pahit yang dirasakan.

"Takarannya tergantung kebutuhan dan kebiasaan klien sebelumnya. Bisa saja awalnya tinggi, di atas 200 ml, tapi jika kliennya ada niat mau pulih, ingin lebih baik, dalam satu tahun bisa berkurang sampai 10 ml, bahkan ada sudah clean," ungkapnya lagi.

Suksesnya PTRM di Puskesmas Kedung Badak terbukti dari rendahnya angka klien yang drop-out atau menghentikan terapi. Dari 65 klien yang terdaftar, 56 masih aktif menjalani terapi dan 5 orang sudah dipastikan pulih dari ketergantungan narkotika.

"Sisanya drop-out dan meninggal. Yang sudah clean bersih sudah tidak pakai narkoba lagi dan tidak menggunakan substitusi oral ada 5 orang. Tapi mereka masih datang untuk memberikan dukungan dan partisipasi jika ada kegiatan komunitas," tandasnya lagi.

Tegas Tapi Tidak Galak

Ibu Nunung pertama kali berinteraksi dengan pelayanan rehabilitasi korban NAPZA pada tahun 2006. Saat itu, ia mendapat kesempatan untuk menjalani pelatihan tentang harm reduction.

Pelatihan tersebut bersambung ke pelatihan pelayanan lainnya seperti infeksi menular seksual, penggunaan jarum suntik steril hingga terakhir terapi substitusi oral metadon. Pada tahun 2008, Ibu Nunung mendapat kepercayaan untuk menjadi koordinator pelayanan PTRM pertama di kota Bogor, yakni di Puskesmas Bogor Timur.

"Pada awalnya ya memang sulit. Saya berusaha untuk tetap memantau kondisi klien yang datang, supaya jangan sampai DO, atau datang hanya untuk dapat obat gratis tanpa niat mau pulih. Saya bahkan sempat beliin klien handphone supaya gampang kontak, eh nggak berapa lama dijual untuk beli putaw lagi," urainya.

Kurang lebih dua tahun mengalami jungkir-balik menangani junkie, Ibu Nunung akhirnya menemukan metode yang tepat. Menggunakan pendekatan empati, ia berusaha membuat para klien nyaman sehingga bisa mendapatkan kepercayaan mereka.



Prinsip yang ditegakkannya adalah tegas tapi tidak galak. Dikatakannya, pernah ada kejadian di mana ada klien yang datang untuk berobat tapi tidak mau membayar. Bukannya marah dan menghardik klien, Ibu Nunung malah meminta klien tersebut untuk datang keesokan harinya.

"Saya telepon saya tegaskan, kamu besok harus balik lagi ke sini. Bukan marah, tapi saya ingin tahu apa penyebab dia berbuat seperti itu. Akhirnya ketahuan, ternyata dia merasa dosisnya kurang, nggak nendang, jadi buru-buru mau nyari barang lagi dari luar. Kalau begitu kan ketahuan jadi masalahnya. Solusinya ya saya naikkan dosis obatnya," tandas wanita berkacamata ini.

Ibu Nunung berharap agar ke depannya layanan PTRM bisa hadir di seluruh puskesmas di Indonesia. Ia juga berharap agar orang tua bisa memberi perhatian lebih kepada anaknya agar tidak terjerumus ke dalam lingkungan pergaulan yang salah.

"Mereka itu kan pada awalnya anak-anak yang kurang perhatian, makanya lari ke pergaulan seperti itu. Oleh karena itu pencegahan terbaik adalah di rumah, dengan memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anak," tutupnya. (mrs/vit)