Tidak Ada 'Bekas' Setelah Imunisasi BCG, Apa Artinya Vaksin yang Dipakai Palsu?

Tidak Ada 'Bekas' Setelah Imunisasi BCG, Apa Artinya Vaksin yang Dipakai Palsu?

Firdaus Anwar - detikHealth
Kamis, 28 Jul 2016 19:03 WIB
Tidak Ada Bekas Setelah Imunisasi BCG, Apa Artinya Vaksin yang Dipakai Palsu?
Foto: thinkstock
Jakarta - Usai mengikuti program imunisasi BCG biasanya akan ada 'bekas' berupa scar yang muncul. Namun bila tak ada tanda sama sekali apa artinya vaksin yang dipakai palsu?

Dr dr Soedjatmiko, SpA (K), MSi, dari Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengatakan jawabannya belum tentu. Ragam bekas yang mungkin ditinggalkan setelah diimunisasi berbeda-beda tergantung dari tiap anak.

Baca juga: Alasan Kenapa Imunisasi Perlu Diulang di Usia SD

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Setelah disuntik (vaksin -red) BCG tidak muncul kemerahan atau benjolan, bukan berarti vaksin palsu. Tergantung kepekaan kulit anak, ketebalan kulit dan reaksi sistem imun si anak," kata dr Soedjatmiko memberikan contoh dalam sesi Live Chat yang digelar di kantor detikcom, Kamis (28/7/2016).

dr Nastiti Kaswandani, Sp.A(K), anggota Satgas Imunisasi IDAI dalam situs IDAI menuturkan jika vaksin BCG yang dipalsukan berisi larutan infus dan gentamycin tidak akan menimbulkan jaringan parut atau scar. Sehingga menurut dr Nastiti, jika muncul scar di lengan hampir dipastikan vaksinnya asli.

Untuk mengetahui pasti apakah sebuah ampul vaksin asli atau palsu, sambung dr Soedjatmiko, hanya bisa dilakukan di laboratorium yang telah dilengkapi alat khusus.

Untuk reaksi demam usai vaksin, menurut dr Seodjatmiko itu merupakan reaksi yang wajar. Di mana biasanya demam yang terjadi 1-5 hari dengan suhu 37,5-40 derajat Celsius. Nah apabila demam anak melebihi waktu tersebut dan disertai gejala lain maka sebaiknya temui dokter.

"Demam bisa 1-5 hari, suhunya bervariasi antara 37,5-40 derajat celsius, tegantung jenis vaksin dan kondisi anak. Beri obat turun panas sesuai dosis yang dianjurkan dokter, tiap 4 jam sampai tidak panas lagi," kata dr Seodjatmiko.

Baca juga: Mengapa Ada Vaksin yang 'Bikin Panas' dan Tidak? Begini Penjelasannya (fds/vit)

Berita Terkait