Mampir Sejenak di Sarang Para Ilmuwan Biologi Molekuler

Laporan dari Australia

Mampir Sejenak di Sarang Para Ilmuwan Biologi Molekuler

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Selasa, 16 Agu 2016 07:15 WIB
Mampir Sejenak di Sarang Para Ilmuwan Biologi Molekuler
Penampakan University of Queensland (Foto: AN Uyung/detikHealth)
Queensland - Bukan tanpa alasan jika Queensland Museum menyimpan koleksi berbagai jenis laba-laba berbisa asli Australia. Di tangan para ilmuwan biologi molekuler, binatang ini dipakai untuk mengungkap rahasia nyeri kronis.

Para ilmuwan dari Institute of Molecular Bioscience (IMB) menggunakan bisa tarantula untuk mengungkap mekanisme nyeri kronis pada Irritable Bowel Syndrome (IBS). Mekanisme tersebut nantinya akan menjadi pedoman untuk menciptakan obat baru yang lebih manjur dan efisien.

"Di Amerika Serikat contohnya, pengobatan nyeri kronis menghabiskan biaya US$ 600 triliun/tahun. Lebih mahal dari biaya untuk kanker, penyakit jantung, serta diabetes, dijadikan satu," salah seorang peneliti, Prof Glenn King dalam sesi 'Speed Meet IMB Scientists' di University of Queensland, Senin (15/4/2016).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Terungkap bahwa pemberian bisa tarantula berhubungan dengan aktivitas protein yang disebut 'Nav 1.1'. Sebelumnya, protein ini dikaitkan dengan epilepsi. Kini, para ilmuwan tengah merancang molekul obat ampuh untuk meredakan nyeri kronis, yang bekerja dengan menghambat 'Nav 1.1'.

Tarantula Australia (Foto: AN Uyung P/detikHealth)

Baca juga: Obat Pereda Nyeri Generasi Baru Siap Dibuat dari Bisa Tarantula

Menumbuhkan Obat dalam Tanaman

Penelitian yang tidak kalah menantang dilakukan oleh Dr Sonia Henriques, juga dari IMB. Bersama timnya, ia merancang penggunaan senyawa peptida pada tanaman untuk tujuan pengobatan. Tujuannya adalah menciptakan obat yang murah serta mudah untuk diakses.

"Pengobatan di masa depan bisa semudah mengunyah kwaci atau minum secangkir teh," jelas Dr Sonia.

Penggunaan peptida punya beberapa kelebihan, antara lain karena lebih selektif dan lebih poten. Kemungkinan juga lebih aman karena pada akhirnya akan dipecah menjadi asam amino, yang sesungguhnya adalah makanan.

Baca juga: Ilmuwan Temukan Cara Bebaskan Manusia dari Nyeri (up/vit)

Berita Terkait