Catat, Ini Pentingnya Rutin Cek HbA1c bagi Pasien Diabetes

Catat, Ini Pentingnya Rutin Cek HbA1c bagi Pasien Diabetes

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Selasa, 30 Agu 2016 18:31 WIB
Catat, Ini Pentingnya Rutin Cek HbA1c bagi Pasien Diabetes
Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta - Memeriksa kadar gula darah secara rutin memang penting. Namun, untuk mengelola diabetes, cek kadar gula darah harian saja tidak cukup. Sehingga, penting melakukan pemeriksaan kadar HbA1c tiap 2 sampai 3 bulan sekali.

Dikatakan Ketua Divisi Metabolik Endokrinologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Indonesia/RS Cipto Mangunkusumo, Dr dr Em Yunir SpPD-KEMD, pada prinsipnya glukosa akan menempel di sel darah merah. Makin tinggi kadar gula darah, makin banyak glukosa yang menempel di sel darah merah hingga sel darah merah terlihat seperti terbungkus gula.

"Glukosa ini nggak bisa hancur kecuali sel darah merahnya hancur sekitar tiap 90 sampai 120 hari. Kalau cuma sebentar dilihat, kelihatannya cuma sedikit karena kan belum terpapar lama. Sedangkan dalam kurun waktu yang lebih lama, baru kelihatan glukosa yang menempel di sel darah merah itu. Makanya kita lakukan cek HbA1c," tutur dr Yunir.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Bagi Pasien Diabetes, Herba Ini Bisa Bantu Kontrol Kadar Gula Darah

Hal itu ia sampaikan di sela-sela Workshop Sosialisasi Panduan PGDM untuk Mencapai Target Pengendaloan Diabetes di Indonesia di JW Marriott Hotel, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (30/8/2016). Untuk kadar normal HbA1c dikatakan dr Yunir ketika skornya di bawah 7. Nilai HbA1c di bawah tujuh menunjukkan rata-rata kadar glukosa seseorang 170 mg/dl.

dr Yunir menekankan bahwa HbA1c tidak sama dengan gula darah. Sebab, gula darah selalu naik turun sesuai asupan yang dikonsumsi atau dengan kata lain, kadar gula darah dapat berfluktuasi. Oleh karena itu, dikatakan dr Yunir kadar HbA1c tidak mencerminkan variasi harian glukosa darah.

Lantas, bisakah jika kadar gula darah harian pasien normal-normal saja tapi nilai HbA1c-nya tinggi? "Bisa saja. Misal pasiennya 'nipu', tiap mau periksa dia nggak makan yang manis-manis. Atau mungkin bisa saja obat yang dikasih cuma bekerja dari pagi sampai siang, malamnya nggak bekerja. Kalau begitu, kita (dokter) lakukan penyesuaian pemberian obat," papar dr Yunir.

Baca juga: Kenali, Bedanya Diabetes pada Orang Gemuk dan Kurus


(rdn/vit)

Berita Terkait