Kamis, 08 Sep 2016 11:47 WIB

Updated

Pakar: Secara Teori, Bisa Saja Zika Mewabah di Indonesia

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Foto: Thinkstock Foto: Thinkstock
Jakarta - Penyebaran virus Zika di Singapura membuat masyarakat Indonesia waspada. Jarak yang dekat dan mobilisasi penduduk antara Indonesia-Singapura yang cukup tinggi meningkatkan risiko penyebaran Zika dari Singapura ke Indonesia.

Otoritas kesehatan Singapura memastikan bahwa penyebaran yang terjadi di Negara Singa tersebut termasuk penularan lokal, dalam artian tidak berhubungan dengan wabah Zika yang terjadi di Amerika Selatan, Tengah dan Kepulauan Karibia. Pertanyaan selanjutnya, bisakah hal yang sama terjadi di Indonesia?

Prof Dr dr Amin Subandrio, SpMK, Direktur Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, mengatakan tanpa adanya penyebaran virus Zika di Singapura pun, risiko Zika mewabah di Indonesia tetap ada. Ada beberapa alasan yang dikemukakan Prof Amin. Pertama, Indonesia termasuk dalam wilayah dengue belts, daerah endemis nyamuk Aedes aegypti vektor infeksi Zika.

Kedua, kasus Zika sudah pernah ditemukan di Indonesia. Penemuan ini pada tahun 2014, saat LBM Eijkman melakukan penelitian terkait penyakit demam berdarah dengue. Nah, di antara sampel pasien yang diperiksa, didapati satu pasien yang terinfeksi virus Zika.

Pasien tersebut merupakan seorang penduduk di kota Jambi. Hasil penelitian pun telah dilaporkan kepada Pemerintah Kota Jambi, dalam hal ini Dinas Kesehatan Provinsi Kota Jambi.

Temuan ini mengonfirmasi bahwa memang virus Zika sudah ada di Indonesia sebelum terjadinya wabah di Brasil.

Baca juga: Seberapa Besar Risiko Penularan Zika dari Singapura ke Indonesia? Ini Kata Pakar

"Secara teori memang bisa menjadi wabah. Cuma kita nggak punya datanya. Yang kemarin di Jambi itu ditemukan setelah kita tes dengue, antibodinya negatif. Tapi gejalanya mirip, akhirnya dibawa ke lab sampel darahnya dan ditemukan memang positif ada Zikanya," urai Prof Amin, saat dihubungi detikHealth. Rabu (31/8/2016).

Dihubungi terpisah, dr Erni J. Nelwan, SpPD-KPTI, Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonsia - RS Cipto Mangunkusumo, menyebut memang bisa saja Zika nantinya mewabah di Indonesia. Apalagi di Indonesia, vektor penularannya yakni nyamuk Aedes aegypti lebih mudah ditemui.

"Definisi wabah kan jumlah kejadian yang lebih besar dari tahun lalu, terjadi secara cepat dan lonjakan yang tiba-tiba. Sangat mungkin Zika nantinya menjadi seperti demam berdarah dengue, karena vektornya sama. Tapi kan hingga saat ini belum terjadi," tutur dr Erni.

Ia menjelaskan bahwa kurangnya data serta sulitnya mengecek adanya Zika di dalam darah membuat angka kejadian kasusnya tergolong kecil di Indonesia. Bisa saja sebenarnya sudah ada wabah virus Zika di Indonesia namun tidak terdata dan tercatat dengan baik.

Dikatakan dr Erni, virus Zika hanya bisa dicek di laboratorium tertentu. Berbeda dengan virus dengue yang sudah bisa dicek di laboratorium besar atau rumah sakit.

Kemungkinan lain mengapa Zika jarang ditemukan di Indonesia adalah gejalanya yang ringan dan mirip demam berdarah dengue. Gejala umum yang dialami oleh pasien Zika antara lain demam, nyeri di sekujur tubuh dan rasa lemas.

"Karena gejalanya mild atau ringan, jadinya tidak diperiksa ke rumah sakit atau laboratorium. Dan memang tidak semua laboratorium bisa mendeteksi adanya Zika. Bisa jadi ini alasan mengapa Zika jarang ditemukan di Indonesia," ungkap Prof Amin.

Baca juga:
Zika Merajalela, Penjualan Obat Nyamuk di Singapura Naik Tajam

(mrs/up)
News Feed