ADVERTISEMENT

Kamis, 01 Sep 2016 17:32 WIB

Kisah 4 Orang 'Berdamai' dengan Penyakit Lupus

Nurvita Indarini - detikHealth
Ilustrasi pasien (Foto: thinkstock)
Jakarta - Penyakit serius, seperti lupus, sering kali membatasi seseorang beraktivitas. Butuh jiwa dan semangat besar untuk 'berdamai' dengan penyakit yang dialami.

Berikut ini kisah orang-orang yang berhasil berdamai dengan lupus, seperti dirangkum detikHealth dari berbagai sumber:

1. Tiara Savitri

Foto: Facebook
Orang dengan lupus (odapus) harus mengonsumsi obat seumur hidupnya dan harus rajin kontrol ke dokter. Panjangnya pengobatan memang membuat lelah, itu makanya perlu jiwa dan semangat besar untuk 'berdamai' dengan penyakit autoimun ini.

Salah satu sosok dengan odapus yang membuktikan pada dunia bahwa dirinya berhasil 'berdamai' dengan lupus dan bahkan bisa beraktivitas seperti orang-orang lainnya adalah Tiara Savitri. Tiara bahkan kuat mendaki gunung.

Tiara mengaku bahwa tidak mudah memang melakukan pendakian ini. Mulanya Tiara meyakinkan dokter. Setelah diizinkan, dokter memperbolehkan dia hanya mendaki 3 gunung saja dan tidak boleh memasang target sampai puncak. Tapi ternyata Tiara bisa sampai puncak dan menaklukkan belasan gunung.

"Begitu banyak manfaat yang bisa diambil dari pendakian ini. Ketika naik gunung, saya bisa mendapatkan pembelajaran, seperti belajar sabar, menahan stres, menahan emosi, serta menerima apa adanya di keadaan apapun. Inilah yang sangat berguna untuk odapus," tutur Tiara beberapa waktu lalu.

2. Veena Mutiram

Foto: Instagram
Veena Mutiram adalah sosok lain yang membuktikan dirinya mampu 'berdamai' dengan lupus. Suatu kali bahkan perempuan yang menggeluti jazz ini tubuhnya bengkak akibat efek pengobatan steroid. Itu karena lupus yang dialami Veena sudah termasuk kronis. Jangan sangka jika dalam kondisi seperti itu Veena hanya dia tergolek di tempat tidur.

Meski secara fisik masih lemah, Veena tetap mampu berkarya. Berbekal handphone, dia merekam nada, kemudian menulis liriknya. "Lalu saya minta teman mengaransemen. Pas pengen isi vocal ya di rumah saja akhirnya, pakai peredam biasa. Jadi walaupun saya sedang sakit, saya tetap berusaha berkarya karena dengan begitu kita juga akan lupa dengan penyakit kita," terang Veena beberapa waktu lalu.

Dengan lupus, Veena jadi belajar untuk memahami tubuhnya. Misalnya stres bisa membuat dirinya drop. Nah, Veena belajar untuk peka pada 'alarm' tubuhnya. Misalnya saja jika tulangnya sudah terasa nyeri atau mengalami migrain yang tak sembuh-sembuh meski sudah diobati, Veena akan segera beristirahat. Sebab, konsumsi obat saja dikatakan perempuan kelahiran Bandung 18 Januari 1970 ini tidak akan berpengaruh.

3. Novita Husna Nurhayati

Pipinya tembam menggemaskan, tapi kondisi ini dialami Novita Husna Nurhayati karena lupus. Mulanya bocah kelas 5 SD ini memang tidak tahu terkena lupus. Demam, muntah-muntah dan tekanan darah yang tinggi sempat membuat dokter menduga bocah ini mengalami tipus ataupun demam berdarah. Tapi akhirnya baru ketahuan Novita terkena lupus.

Saat lupusnya kambuh karena kecapekan, Novita akan merasa pusing dan badannya nyeri. Namun bocah berumur 11 tahun ini punya cara unik untuk meredakan nyeri yang muncul di sekujur tubuhnya. Caranya, dia mengibaratkan ada 'tombol khusus' di bagian-bagian tubuhnya yang sering nyeri. Di antaranya di kening, punggung, lutut dan engkel kakinya.

"Tombolnya ini ada angkanya, sampai 10. Kalau sakit, tinggal diputer, dikecilin sampai angka 0," jelasnya.

Sebelum makan, gadis kecil itu juga selalu berkata kepada makanan di hadapannya, "Hai makanan, jadi obat ya." Siapa sangka, kepolosannya justru memberinya kekuatan untuk bertahan dari rasa sakit yang mendera.

4. Iyan Sofyan


Gejala lupus sebenarnya sudah terlihat pada diri Iyan sejak tahun 1998. Hanya saja karena aktivitasnya yang seabrek sebagai penyiar radio, MC, trainer dan pengajar, ia tetap saja bandel.

Keanehan muncul saat ia tengah mengandung. Tiba-tiba saja ia sering mimisan dan dalam jumlah banyak. Hingga akhirnya dia baru tahu terkena lupus.

Dengan lupus, Iyan tahu benar dirinya tidak boleh terlalu lelah. Padahal Iyan adalah sosok yang tidak bisa diam. Namun kemudian dia berhasil 'berdamai' dengan lupus dan mengambil hikmah atas penyakit yang dialaminya.

"Dengan lupus, hidup saya justru menjadi lebih baik. Misal dulu saya cuma tidur tiga jam atau tidak tidur sama sekali, sekarang pola tidur membaik. Makan jadi teratur, masaknya harus masak sendiri," terangnya.

Kini Iyan mendirikan Sahabat Kupu di Yogyakarta yang bergerak aktif sebagai kelompok pendukung bagi odapus, utamanya anak-anak dan remaja.


(vit/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT