Dr dr Iris Rengganis, SpPD-KAI, dari Divisi Alergi-Imunologi Klinik, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia - RS Cipto Mangunkusumo, mengatakan bahwa istilah trivalent dan quadrivalent dalam vaksin influenza merujuk pada strain virus yang digunakan. Trivalent artinya vaksin menggunakan 3 strain virus dan quadrivalent artinya menggunakan 4 strain virus.
"Saat pertama kali keluar vaksin influenza itu monovalent, artinya strain yang digunakan hanya satu, makanya kebalnya juga hanya terhadap influenza yang bersumber dari virus strain tersebut. Kemudian ilmu kedokteran berkembang dan muncul vaksin bivalent, trivalent dan yang terbaru quadrivalent," tutur dr Iris, ditemui di Hotel Westin, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, baru-baru ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dijelaskan dr Iris, sejatinya terdapat puluhan hingga ratusan jenis strain virus influenza. Namun untuk vaksinasi modern, virus yang umum digunakan adalah dua jenis strain virus influenza A dan satu jenis strain virus influenza B. Inilah yang disebut vaksin influenza trivalent.
"Karena influenza A kita ambil dua yang paling sering menyebabkan penyakit, sementara influenza B salah satu dari dua strain yang ada, Yamagata atau Victoria. WHO melakukan survei untuk menentukan kira-kira virus B ini mana yang sedang beredar, lalu baru dipilih vaksinnya," terang dr Iris lagi.
Dengan kata lain, vaksin influenza trivalent mengandung dua strain influenza A dan satu strain influenza B. Dulu, survei dilakukan untuk melihat strain influenza B mana yang beredar karena virus influenza B diketahui hanya menginfeksi manusia dan anjing laut, sehingga risikonya tidak seberbahaya virus influenza A.
Namun seiring berjalannya waktu, mulai muncul ketidakcocokan atau mismatch. Survei menyebut yang beredar adalah strain Yamagata, namun di beberapa tempat ditemukan pasien influenza B yang memiliki strain Victoria dan sebaliknya. Hal ini memicu peneliti untuk melakukan penelitian.
"Akhirnya keluar itu hasil penelitian di Eropa, Australia dan Amerika kalau saat ini sudah tidak bisa lagi diprediksi apakah yang beredar Yamagata atau Victoria, karena bisa saja dua-duanya beredar. Maka dari itu, penggunaan vaksin trivalent menjadi tidak efektif lagi," ungkap wanita berkerudung ini.
Beberapa perusahaan farmasi pun akhirnya meluncurkan produk vaksin influenza quadrivalent. Tidak seperti pendahulunya yang hanya memiliki salah satu dari dua jenis strain virus influenza B, vaksin quadrivalent mengandung kedua strain virus tersebut.
dr Iris menambahkan vaksin quadrivalent bisa melindungi seseorang dari risiko infeksi influenza hingga 90 persen. Ke depannya, ia mengatakan vaksin quadrivalent akan menggantikan vaksin trivalent karena perlindungan yang diberikan lebih efektif.
"Jadi nggak usah bingung lagi mau vaksin influenza, yang Yamagata atau Victoria ya? Karena quadrivalent sudah ada dua-duanya. Dalam waktu satu-dua tahun juga vaksin trivalent sudah tidak akan digunakan dan digantikan oleh quadrivalent," tutupnya.
Baca juga: Pada Lansia, Komplikasi Influenza Bisa Sebabkan Gagal Jantung Hingga Stroke (mrs/vit)











































