Kamis, 08 Sep 2016 14:28 WIB

Tes Zika Sulit dan Mahal, Pemeriksaan di Indonesia Masih 'Pilih-pilih'

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Foto: Thinkstock
Jakarta - Ancaman virus Zika terasa makin nyata setelah bikin heboh negara tetangga, Singapura. Namun begitu, pemeriksaan secara massal dinilai belum perlu untuk dilakukan.

Salah satu alasan utamanya adalah karena ada infeksi virus sejenis yang dianggap lebih berbahaya yakni Dengue. Infeksi Dengue bisa menyebabkan kematian akibat demam berdarah, sedangkan Zika hanya memicu demam ringan. Baik Dengue maupun Zika, sama-sama ditularkan oleh nyamuk Aedes.

Namun sepertinya, itu bukan satu-satunya alasan. Faktanya, pemeriksaan ZIka memang tidak mudah dilakukan. Hingga saat ini belum ada tes yang sangat spesifik untuk mendeteksi virus Zika, sehingga sering terjadi reaktivitas silang (cross-reactivity) dengan virus sejenis yakni Dengue dan Chikungunya.

"Untuk membedakannya, saat ini yang paling 'mendekati pasti' adalah RT-PCR," kata dr Iman Firmansyah, SpPD, KPTI, FINASIM dari RS Pusat Infeksi Sulianti Saroso, Kamis (8/9/2016).

RT-PCR atau Reverse transcription polymerase chain reaction adalah tes yang saat ini dipakai untuk mengidentifikasi infeksi Zika. Tes ini memberikan hasil positif pada rentang waktu 3-5 hari sejak muncul gejala, yakni demam ringan disertai mata merah (conjunctivitis) dan ruam di kulit (rash).

Sampel yang dipakai adalah darah dan urine. Sampel darah dipakai untuk pemeriksaan hingga 5 hari pertama sejak muncul gejala, sedangkan sampel urine dipakai untuk pemeriksaan di atas hari ke-6. Pembedaan ini terkait viremia, atau masa keberadaan virus dalam cairan tubuh.

Menurut dr Firman, keberadaan RT-PCR di Indonesia saat ini masih sangat terbatas. Alat ini baru bisa ditemui antara lain di Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan RI (Kemenkes) dan Lembaga Biologi Molekular Eijkman. Sampel dari seluruh Indonesia harus dikirim ke lembaga-lembaga tersebut untuk diperiksa, sehingga butuh waktu sekurangnya 2 kali 24 jam untuk tahu hasilnya.

Baca juga: Zika Terdeteksi di Singapura, Kemenkes RI Pantau Bandara dan Pelabuhan

Dalam sebuah wawancara dengan Reuters, Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes dr HM Subuh, MPPM mengatakan pemeriksaan Zika untuk saat ini tidak bisa dilakukan ke semua orang karena terlalu mahal. Hal ini diakui juga oleh dr Firman.

"Saya kurang tahu harganya, tapi memang RT-PCR ini tes yang sangat mahal," sebut dr Firman, yang juga merupakan anggota Kelompok Kerja Penanggulangan Zika di Indonesia.

Untuk itu, pemeriksaan Zika masih dilakukan secara terbatas. Anamnesa atau pemeriksaan awal menjadi pertimbangan untuk menentukan perlu tidaknya RT-PCR dilakukan pada pasien dengan gejala Zika. Jika memang ada riwayat bepergian ke daerah endemis, barulah pemeriksaan tersebut akan dilakukan.

Baca juga: Ancaman Zika Meluas, Anjuran 'Puasa' Seks Makin Diperketat

(up/vit)