Dr Jia Liu melakukan penelitian kepada 1.075 pasien sembelit dan konstipasi kronis yang dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok menggunakan terapi electroacupuncture sementara kelompok lainnya merupakan kelompok kontrol.
Penelitian dilakukan selama 8 pekan yang dibagi menjadi 28 sesi. Hasil penelitian menyebut kelompok pertama yang mendapatkan terapi electroacupuncture mengalami frekuensi buang air besar (BAB) yang lebih baik dan pergerakan usus besar yang meningkat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah melakukan kontrol ulang 20 minggu kemudian, 38 persen partisipan dari kelompok pertama berhasil BAB lebih dari 3 kali dalam sepekan. Sedangkan di kelompok kontrol, hanya 14 persen yang berhasil melakukannya.
"Sebagian besar pasien konstipasi parah harus minum obat untuk bisa BAB. Karena itu dengan adanya penelitian ini, terapi electroacupuncture dapat menjadi alternatif terapi yang lebih efektif, aman dan nyaman," tutur dr Liu, dikutip dari Reuters.
Meski begitu, dr Liu memiliki catatan tersendiri untuk mereka yang ingin melakukan electroacupuncture untuk meredakan semblit. Electroacupuncture menggunakan prinsip yang sama seperti akupunktur biasa sehingga terapi bisa dilakukan cukup lama.
Di sisi lain, penggunaan obat dan laksatif masih jadi standar utama penanganan sembelit dan konstipasi kronis.
"Karena itu terapi ini sebaiknya dilakukan setelah pemberian laksatif dan pengobatan oleh dokter tidak memiliki hasil yang optimal," ungkapnya dalam jurnal Annals of Internal Medicine.
Baca juga: Ingin Lancar BAB? Dokter Bedah Beberkan Rahasianya di Video Ini
(mrs/vit)











































