Ketika pertama kali datang ke Massachusetts General Hospital sang wanita mengeluh kerap gagal hamil setelah mencoba selama satu setengah tahun. Ia tidak merokok, olahraga secara teratur, jarang mengonsumsi minuman beralkohol, memiliki berat badan normal, dan menstruasi teratur.
Namun memang sang wanita diketahui memiliki kondisi tuba falopi tersumbat sehingga dokter menyarankan agar ia hamil dengan program kehamilan berbantu bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF). Hanya saja setelah menjalani program, kehamilan tetap saja gagal terjadi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Ini Alasan Mengapa Pasien Tuberkulosis Dianjurkan Pakai Masker
"Dua siklus fertilisasi in vitro gagal. Pemeriksaan histerosalpingografi menunjukkan penyempitan abnormal dan outpouching dari saluran tuba distal," tulis dokter yang menangani kasus seperti dikutip dari New England Journal of Medicine, Jumat (16/9/2016).
Dr Richard Legro dari Penn State University College of Medicine yang turut terlibat mengatakan setelah itu sang wanita dilakukan pemeriksaan untuk infeksi. Beberapa infeksi seperti gonore atau chlamydia memang diketahui bisa memicu kemandulan namun hasilnya negatif.
Setelah berbagai tes kembali dilakukan akhirnya muncul kecurigaan adanya kemungkinan infeksi TB. dr Legro mengatakan meski TB terkenal sebagai penyakit paru ia sebenarnya juga bisa menyerang bagian tubuh lain.
"TB ini bisa memengaruhi kebanyakan sistem organ, jadi Anda harus selalu waspada terhadapnya," kata dr Legro.
Akhirnya sang wanita terkonfirmasi memiliki infeksi TB pada dinding rahim. Kenapa tak ada gejala yang terlihat dijelaskan oleh dokter kemungkinan karena sistem imunnya menjaga agar penyakit cukup terkendali.
Setelah satu tahun menjalani pengobatan antibiotik, sang wanita dilaporkan sukses hamil dan melahirkan bayi perempuan seberat 1,8 kilogram.
Baca juga: Asal Patuh Minum Obat, Tuberkulosis Pasti Bisa Disembuhkan! (fds/up)











































