Selasa, 20 Sep 2016 16:36 WIB

Menopause Dini Akibat Pengobatan Kanker Serviks? Begini Penjelasan Dokter

Ajeng Anastasia Kinanti - detikHealth
Foto: Thinkstock
Jakarta - Artis Julia Perez alias Jupe baru-baru ini mengatakan bahwa dirinya diprediksi mengalami menopause dini. Hal ini berkaitan dengan terapi pengobatan kanker serviks yang dijalaninya sejak tahun 2014.

Jupe diketahui terkena kanker serviks stadium 2A dan sudah menjalani sejumlah prosedur untuk sembuh, namun ia sampai saat ini masih menjalani terapi.

Menurut dokter spesialis kebidanan dan kandungan RSUP Dr Sardjito Yogyakarta, dr Muhammad Nurhadi Rahman, SpOG, atau dr Adi, menopause adalah berhentinya menstruasi satu tahun atau lebih karena menurunnya fungsi dari indung telur.

Disebut sebagai menopause dini apabila menopause ini terjadi kurang dari usia 40 tahun. Apabila berhentinya menstruasi itu bukan disebabkan karena penurunan fungsi dari ovarium, seperti misalnya operasi pengangkatan rahim, namun indung telur tidak turut serta diangkat, maka tidak bisa dikatakan wanita tersebut menopause.

Baca juga: Dokter: Kanker Serviks Tak Bergejala, Cuma Ketahuan Kalau Diperiksa

Begitu pula dengan tindakan kemoterapi ataupun radiasi untuk penyakit kanker mulut rahim. Selama kondisi ovarium (indung telur) masih baik setelah dilakukan kemoterapi ataupun radiasi, tidak dapat dikatakan menopause dini. Terlepas masih menstruasi atau tidak, dan rahim masih ada atau tidak, tapi selama fungsi ovarium masih normal maka tidak bisa dikatakan menopause.

"Untuk memastikan hal tersebut, ada beberapa pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan untuk menunjukkan ovarium masih berfungsi normal atau tidak, sehingga bisa diambil kesimpulan wanita tersebut benar-benar menopause atau tidak," ujar dosen Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut kepada detikHealth.

Pengobatan kanker serviks dengan radioterapi atau kemoterapi konvensional, menurut dr Adi, memang ada risiko menyebabkan kerusakan sel telur. Namun, seiring berkembangnya ilmu pengobatan, kerusakan sel telur dapat dicegah dengan pemberian obat-obatan tertentu sebelum kemoterapi. Bisa juga dilakukan dengan cara memindahkan posisi ovarium di dalam perut supaya meminimalkan ovarium terkena radiasi.

Untuk tindakan preservasi ovarium (penyelamatan indung telur) ini, harus dikonsultasikan dengan dokter kandungan yang ahli menangani kanker alias dokter ginekologi onkologi.

Baca juga: Cegah Kanker Serviks, Vaksinasi Bisa Diberikan Sejak Anak Usia 11 Tahun

(ajg/vit)