"Kita sering menertawakan kejenakaan yang tak terduga. Tapi, patut diingat jika sekadar melihat teman terjatuh di jalan Anda tertawa, itu wajar. Tapi tidak normal adanya jika Anda melihat orang jatuh yang lebih serius lantas Anda tertawa," kata psikolog Robert Provine, PhD dikutip dari Men's Health.
Ia menambahkan, umumnya jatuh atau terpeleset bisa menjadi sebuah kekonyolan yang pada akhirnya dapat memicu rasa humor seseorang. Sementara, profesor psikologi di Texas A&M, Jyotsna Vaid, PhD menambahkan tertawa bisa jadi cara paksa mengekspresikan bantuan atau kepuasan bahwa kenyataannya, bukan Andalah yang jatuh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Play frame
Dr William F Fry, psikiater dan founder gelotology (ilmu tawa) di Stanford University mengungkapkan 'play frame' menempatkan peristiwa di kehidupan nyata dalam konteks yang tidak serius dan memicu reaksi psikologis tidak biasa. Dengan adanya play frame, akan menjadi hal yang lucu saat melihat teman terpeleset, tapi tidak menjadi hal yang lucu ketika melihat orang lain jatuh dari lantai gedung tertentu dan meninggal.
2. Keganjilan
Tertawa karena seseorang jatuh bisa terjadi karena adanya keganjilan. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan mengapa seseorang menertawakan hal yang menyampaikan ambiguitas, ketidaklogisan, dan ketidaktepatan. Contohnya, jadi hal yang lucu ketika melihat badut memakai sepatu besar atau seseorang dengan hidung besar.
Baca juga: Cara Simpel untuk Bantu Tubuh Tetap Sehat: Tertawa dan Makan Cokelat
3. Menegaskan keunggulan
Teori filsuf Thomas Hobbes mengungkapkan tawa bisa muncul dari perasaan superioritas. Ketika tertawa saat melihat orang jatuh, bisa jadi ledakan tawa yang muncul akibat Anda melihat kemalangan seseorang dan tanpa disadari menjadi bentuk cemoohan.
4. Saraf cermin di otak
Beberapa ahli saraf menunjukkan adanya saraf cermin yang bisa membuat seseorang merasakan jika ia adalah orang yang terjatuh atau melakukan hal yang konyol. Dengan adanya saraf cermin, otak akan menciptakan kembali aktivitas otak orang yang terjatuh pada orang yang melihatnya, hingga ia terdorong untuk tertawa.
5. Tak ada empati
Dalam studi tahun 2010, psikolog Peter McGraw dari University of Colorado menjelaskan, melihat seseorang tersakiti sebagai hal yang lucu bisa terjadi ketika orang tersebut tidak memiliki empati pada korbannya. Umumnya, tidak ada empati karena seseorang tak mengenal si korban. Namun, ketika mengenal korban dan ada hubungan yang dekat, empati lebih tinggi terbangun hingga refleks yang muncul bisa saja bukan bentuk tertawaan.
Baca juga: 8 Manfaat Sehat Tertawa
(rdn/vit)











































