Bagaimana tidak, sebelum tragedi itu menimpa Will, ia dikenal sebagai pria yang aktif, berbadan atletis, menggemari olahraga ekstrim dan sukses dalam pekerjaannya sebagai seorang bangkir. Namun karena sebuah kecelakaan, ia kehilangan semuanya. Will menjadi quadriplegia, seseorang yang mengalami kelumpuhan akibat cedera atau penyakit.
Pada penderita quadriplegia, mereka kehilangan seluruh kendali pada anggota geraknya, baik tangan maupun kaki. Biasanya pada bagian yang lumpuh, mereka juga sudah tidak merasakan sensasi apapun atau mati rasa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Belum lagi komplikasi yang memberatkan kondisinya. Misalnya, menurut Nathan, Will rentan mengalami pneumonia atau radang paru-paru. Ia juga mudah terserang berbagai infeksi atau suhu tubuhnya tak boleh berubah dengan cepat atau berkeringat sebab ia akan kehilangan kesadaran.
Ilustrasi (Foto: Thinkstock) |
Derita ini cukup menjadi alasan bagi Will untuk melakukan percobaan bunuh diri. Hal ini diketahui Louisa Clark (diperankan bintang Game of Thrones, Emilia Clarke) saat menemukan Will tiba-tiba melemah dan hampir tak sadarkan diri. Di pergelangan tangannya nampak bekas luka sodetan yang mengindikasikan Will pernah hampir menyerah.
Apalagi di awal film, ibu Will berpesan kepada Louisa jika putra semata wayangnya itu harus terus ditemani, bahkan tak boleh ditinggal lebih dari 15 menit, sebab dikhawatirkan akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan.
Seperti dikutip dari laman WHO, percobaan bunuh diri merupakan faktor risiko tunggal dan paling kuat dari bunuh diri itu sendiri. Artinya, bila seseorang pernah melakukan percobaan bunuh diri, maka kemungkinan untuk mengulanginya lagi juga sangat besar.
Dalam sosok Will juga terlihat tanda-tanda ingin bunuh diri yang kuat. Misalnya sering membuat pernyataan bahwa ia tak bisa menerima dirinya yang sekarang; merasa dirinya terjebak dalam sebuah situasi atau merasa tak punya harapan; menarik diri dari lingkungan sosial dan sering meminta ditinggal sendirian; mengalami perubahan mood yang cepat; pada beberapa orang bahkan terjadi perubahan kepribadian. Apa tanda-tanda lain orang yang ingin bunuh diri?
Simak tanda lain orang yang akan bunuh diri dan cuplikan film Me Before you di halaman selanjutnya.
Laman Mayo Clinic menyebut, gejala lain yang diperlihatkan orang dengan kecenderungan bunuh diri antara lain:
- membicarakan keinginannya untuk bunuh diri, berharap dirinya mati atau tidak dilahirkan;
- sering membicarakan hal-hal berbau kekerasan atau kematian;
- membeli sarana untuk bunuh diri seperti senjata maupun obat-obatan tertentu;
- menyalahgunakan alkohol dan obat-obatan, bahkan semakin memburuk dari waktu ke waktu;
- perubahan rutinitas, termasuk pola tidur dan pola makan; sering melakukan kegiatan yang berisiko atau merusak seperti ngebut saat berkendara;
- memberikan barang-barang kesukaan kepada orang lain atau berhenti melakukan aktivitas yang disuka karena merasa sudah tak ada gunanya;
- sering mengucapkan selamat tinggal kepada orang yang ditemui seolah-olah tidak akan berjumpa lagi;
Namun memang tidak semua orang yang ingin bunuh diri memperlihatkan gejala ini secara terang-terangan. Ada yang mengungkapkannya secara blak-blakan, dan ada juga yang cenderung merahasiakannya.
Ilustrasi (Foto: Thinkstock) |
Dalam 'kasus' Will, ia nampaknya tidak menyembunyikan keinginan ini. Terbukti ketika Will ternyata menggunakan jasa pendampingan bunuh diri yang disediakan sebuah klub di Swiss, dan kedua orang tua Will maupun Nathan mengetahui hal ini.
Untuk urusan yang satu ini, Swiss memang jadi sorotan. Negara ini memiliki undang-undang yang memperbolehkan seseorang bunuh diri, dengan syarat sudah ada rekomendasi dari dokter bahwa yang bersangkutan tidak lagi bisa disembuhkan lagi dari penyakit menahun. Ini adalah satu-satunya di dunia, sekaligus menjadikan Swiss sebagai 'surganya' orang-orang yang ingin bunuh diri.
Ketika mendengar hal ini, Louisa pun memutuskan untuk tak tinggal diam. Ia lantas aktif melakukan riset tentang berbagai hal yang bisa dilakukan agar dapat mengubah pikiran orang dengan kecenderungan bunuh diri, terutama dari buku dan internet. Dari situ ia mencoba mengajak Will menonton balap kuda, konser musik klasik hingga mengajaknya berlibur ke Mauritius. Lalu bagaimana hasilnya? Apakah itu semua membuat Will berubah?
Will memang kemudian berubah menjadi pribadi yang lebih baik setelah bertemu Louisa. Ia bisa tersenyum lagi dan mau bersosialisasi, tetapi pertemuan itu justru mengingatkan Will bahwa ia ia tidak bisa melakukan hal yang ia ingin lakukan terhadap Louisa. Will sendiri sejak awal terlihat tak bisa menerima dirinya yang telah menjadi cacat dan kehilangan seluruh dirinya yang dulu.
Will sudah terlalu lelah dengan rasa sakit dan penderitaan yg dilaluinya dalam kurun 2,5 tahun terakhir. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk tetap menjalani euthanasia di Swiss.
Hal ini membuat Louisa kecewa, bahkan mungkin penonton dibuat ikut kecewa, walaupun Louisa akhirnya ikut memberikan dukungan, bahkan mendampinginya. Sayangnya cinta yang tulus dari Louisa tidak cukup kuat untuk mengubah keputusan Will.
Film keluaran tahun 2016 ini lantas mendapat banyak kritikan dari gerakan disabilitas di sejumlah negara, seperti Inggris, AS dan Australia, bahkan menyulut aksi protes. Dikutip dari situs Disability News Service, gerakan disabilitas menganggap film ini memberikan kesan bahwa seseorang dengan disabilitas hanya menjadi beban keluarga sehingga mereka lebih baik mati daripada menjadi cacat seumur hidupnya.
Film ini juga seolah-olah membenarkan aksi bunuh diri untuk para difabel agar mereka yang hidup di sekitarnya bisa 'hidup dengan berani', tanpa perlu khawatir terbebani oleh mereka. Tagar #MeBeforeEuthanasia pun sempat digaungkan oleh sejumlah selebriti di Inggris yang mengalami disabilitas untuk mengkritik film yang diadaptasi dari novel karangan Jojo Moyes dengan judul yang sama ini.
Namun dalam keterangannya sutradara Me Before You, Thea Sharrock mengaku terkejut dengan respons negatif yang diterima publik terhadap film besutannya.
"Ini adalah kisah fiksi yang mengedepankan tentang seberapa pentingnya hak seseorang untuk memilih. Pesannya sederhana saja, agar Anda bisa hidup dengan berani dan tidak berpuas diri," kepada The Hollywood Reporter dan dikutip dari The Sydney Morning Herald.
Ilustrasi (Foto: Thinkstock) |
Data Badan Kesehatan Dunia mencatat di seluruh dunia terjadi 800.000 kasus orang meninggal akibat bunuh diri setiap tahunnya. Bunuh diri juga menjadi penyebab kematian terbesar kedua pada kelompok usia 15-29 tahun.
Bahkan bunuh diri tidak hanya menjadi fenomena yang marak di negara maju atau yang penduduknya berpendapatan tinggi, tetapi ini juga terjadi di seluruh dunia. Faktanya, di tahun 2012, 75 persen bunuh diri terjadi di negara dengan pendapatan sedang hingga rendah.
Bedanya, di negara maju bunuh diri biasanya berisiko dilakukan oleh mereka yang mengalami gangguan mental seperti depresi atau penyalahgunaan alkohol. Tetapi banyak juga yang terjadi secara impulsif di saat berada dalam krisis semisal masalah keuangan, perceraian atau nyeri kronis maupun karena penyakit tertentu.
Meski demikian, bunuh diri merupakan sesuatu yang dapat dicegah. Mulai dari menghindarkan mereka yang berisiko dengan sesuatu yang bisa digunakan untuk bunuh diri hingga memberikan dukungan penuh agar mereka berubah pikiran.
Mungkin jika jalan ceritanya diubah dan Will benar berubah pikiran karena cinta Louisa, akhir kisah mereka mungkin tidak akan terlalu pedih, walaupun seperti kata sang sutradara pilihan hidup seseorang harus dihargai dan dihormati. Lagipula penonton mana yang rela aktor setampan Sam Claflin harus berakhir tragis dalam filmnya.
Cinemathoscope hadir setiap Kamis untuk mengulas sisi kesehatan yang menjadi bagian tema film. Menurut Anda, film apa lagi yang perlu diulas?
Halaman 2 dari 3












































Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)