Jumat, 23 Sep 2016 07:39 WIB

Hati-hati Gangguan Pendengaran Bayi yang Tak Terdeteksi

Nurvita Indarini - detikHealth
Foto: Thinkstock
Jakarta - Gangguan pendengaran bisa terjadi karena berbagai macam hal. Sering kali gangguan pendengaran sejak bayi tak terdeteksi dan baru diketahui saat anak berusia lebih dari satu tahun.

Seperti pengalaman Illian Deta Arta Sari, anak ketiganya baru diketahui mengalami gangguan pendengaran saat berusia 2,5 tahun. Belum mampunya si kecil berkata-kata mulanya hanya diduga keterlambatan bicara seperti yang dialami anak keduanya.

Menurut perempuan yang akrab disapa Illin ini, sebenarnya si kecil yang benama Aziza ini ceriwis. Maksudnya ceriwis adalah gemar mengeluarkan bunyi-bunyi dari mulutnya. Hanya saja kata-katanya tanpa makna, mirip ocehan yang sering dilakukan bayi.

"Kalau diajak bicara dia melihat mata kita. Ngangguk-angguk, senyum-senyum, seolah ngerti. Kalau ada musik juga dia ikut joget-joget. Tapi ini bukan karena dia mendengar, namun mungkin karena dia mengkopi yang dilakukan kakak-kakaknya," tutur Illin dalam percakapan dengan detikHealth, Kamis (22/9/2016).

Karena Aziza mempraktikkan pengkopiannya di saat tepat, Illin dan suaminya sama sekali tidak menyangka ada yang salah dengan pendengaran Aziza. Bahkan Aziza pun bisa melakukan perintah-perintah sederhana.

"Misalnya kalau disodori gelas lalu ambil minum. Disodori sampah, dibuang ke tempat sampah," imbuh Illin.

Karena itu begitu tahu Aziza hanya bisa mendengar suara dengan level lebih dari 110 desibel, hati Illin seketika runtuh. Selama ini dia tidak sadar putrinya hidup dalam keheningan. Hanya suara sekeras petir, mesin pengebor jalan dan pesawat saja yang bisa didengar Aziza.

Baca juga: 'Bersyukurlah Jika Bisa Mendengar Tanpa Keluar Uang Ratusan Juta'

"Sedih banget lihatnya. Ini juga yang dialami ibu-ibu lain, kalau anak sakit, bukan cuma anaknya saja yang sakit tapi juga ibunya," tambah Aziza.

Kini Illin mulai bisa menerima kondisi Aziza. Namun dia ingin memberikan yang terbaik untuk putri kecilnya. Dia tidak mau kondisi ini membuat Aziza mengalami peristiwa yang tidak menyenangkan dalam hidupnya. Karena itu diputuskan untuk memberikan implan koklea bagi Aziza.

Untuk itu Illin yang kini sebagai ibu rumah tangga dan suaminya yang pegawai negeri sipil (PNS) harus mencari tambahan dana demi mengumpulkan Rp 240-600 juta untuk membeli peralatan implan koklea. Teman-temannya yang bersimpati pun membatu dengan menyebar pesan donasi.

"Hikmahnya buat saya ya mungkin saya sedang diuji kesabarannya. Ini juga membuat saya jadi lebih sayang sama anak-anak saya," tutur Illin.

Sejak mengetahui kondisi anaknya, Illin banyak berdiskusi dan bertemu dengan orang-orang yang punya pengalaman serupa. Dari situ dia tahu hearing loss pda balita macam-macam sebabnya ada yang karena gangguan rambut koklea, virus meningitis dan kecelakaan.

Anak kemungkinan terlahir tunarungu jika pada saat hamil sang ibu terkena virus TORCH, rubella (campak), herpes dan sifilis. Bayi yang terlahir prematur dan kurang oksigen juga berisiko tunarungu.

"Kalau di luar negeri bayi baru lahir ada tes BERA untuk mengetahui ada masalah pendengaran atau tidak. Kalau di Indonesia masih jarang ya. Yang saya baca, yang tahu banyak yang agak terlambat, di usia sekitar 2 tahun," tutur mantan aktivis Indonesia Corruption Watch ini.

Eka K. Hikmat, S. Psi, terapis AV (Auditory-Verbal) dari Yayasan Rumah Siput Indonesia beberapa waktu lalu mengingatkan anak dengan gangguan dengar perlu secepatnya memakai alat bantu karena potensi kemampuan dengar anak ada 'expired date' atau masa kadaluwarsanya. Ini karena saraf-saraf otak pendengaran tidak selamanya plastis, di mana makin lama makin kaku.

"Ketika masih di bawah 3,5 tahun, itu plastis sekali, fleksibel sekali. Begitu lewat dari itu akan mulai kaku, apalagi setelah di atas tujuh tahun. Jadi anak lebih sulit juga untuk diajari mendengar dan berbicara meskipun sudah pakai alat. Bukan tidak mungkin, tetapi lebih sulit," terang Eka beberapa waktu lalu.

Untuk itu semakin ditunda pemakaian alat bantu mendengarnya, maka kemampuan bahasa dan berkomunikasi anak dengan gangguan dengar bisa jadi makin tertinggal. Potensi untuk bisa mengakses kemampuan mainstream seperti yang dimiliki anak-anak pada umumnya juga akan makin terbatas.

Baca juga: Kisah Ibu yang Ingin Balitanya Bisa Mendengar

(vit/up)