Para peserta berasal dari Eropa, Australia, Jepang, Malaysia dan beberapa negara Asia lain, serta tuan rumah Indonesia. Mereka terdiri dari mahasiswa program studi dokter, keperawatan, gizi, ilmu kesehatan masyarakat dan kebidanan untuk mengikuti pelatihan selama lebih kurang tiga minggu hingga tanggal 8 Oktober 2016.
"Hari ini semua peserta kita lepas menuju beberapa wilayah di Kulonprogo," kata Dekan Fakultas Kedokteran (FK) UGM , Prof Dr dr Teguh Aryandono di Bulaksumur Yogyakarta, Jumat (23/9/2016).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebelum terjun ke lapangan, mereka telah mengikuti kuliah teori di Fakultas Kedokteran UGM dari beberapa pakar kesehatan baik dari FK UGM maupun para pakar dari luar negeri," kata Teguh didampingi Dr dr Mahardika Agus Wijayanti, MKes selaku Kepala Prodi Pendidikan Dokter.
Baca juga: Rail Clinic, Ketika Layanan Kesehatan Dilakukan di Atas Gerbong Kereta Api
Beberapa pakar dari luar negeri yang turut memberikan kuliah teori seperti dari Mahidol University, Ramathibodi School of Nursing, Kobe Universiyu, Graduate School of Health Sciences, Kyoto University Graduate School of Medicine, Universiti Sains Malaysia (USM), University of New South Wales (UNSW), Erasmus Medical Center dan Chulalongkorn University.
Ketua Summber Course 2016, dr Gunadi, PhD, SpBA menambahkan permasalahan utama yang akan diangkat dalam Summer Course di Kulonprogo adalah masalah kesehatan ibu anak. Saat ini pencapaian kesehatan ibu dan anak masih menjadi tantangan tersendiri untuk upaya menurunkan angka kematian ibu dan anak.
Selain itu lanjut Gunadi, ada beberapa permasalahan kesehatan di Indonesia seperti menurunkan insidensi penyakit malaria atau penyakit tropis lainnya, tuberculosis (TBC), water-borne diseases dan hepatitis yang masih menjadi tantangan bangsa Indonesia. Peserta dari luar negeri akan mengimplementasikan pengetahuan yang ada di negaranya untuk mencoba membantu mengatasi permasalahan lokal terutama di Kulonprogo.
"Beberapa kasus yang diangkat ini merupakan kasus yang jarang ditemukan di negara-negara non-tropis seperti Australia dan Eropa. Peserta dari Australia, Eropa dan negara Asia lainnya tertarik untuk mengikuti," papar Gunadi.
Gunadi menambahkan jumlah peserta asing sebanyak 24 orang. Sedangkan mahasiswa FK Kedokteran dan sekolah vokasi UGM sebanyak 18 orang ditambah beberapa dosen pendamping.
"Kita berharap dengan kegiatan ini mampu membekali mahasiswa dengan paparan langsung mengenai masalah kesehatan yang ada di masyarakat. Mereka belajar mengidentifikasi kasus dalam perspektif global dan belajar berkolaborasi dengan tenaga medis dan pakar asing untuk menangani kasus kesehatan masyarakat lokal dengan prinsip Interprofessional Education (IPE)," pungkas Gunadi.
Baca juga: Sarana dan Prasarana yang Kurang Jadi Keluhan Umum Pelayanan JKN (bgs/up)











































