Catat, Beberapa Gangguan Kesehatan yang Bisa Serang Orang Kurus

Catat, Beberapa Gangguan Kesehatan yang Bisa Serang Orang Kurus

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Senin, 26 Sep 2016 19:01 WIB
Catat, Beberapa Gangguan Kesehatan yang Bisa Serang Orang Kurus
Foto: thinkstock
Jakarta - Ada yang bilang kurus atau mempunyai berat badan normal merupakan kunci dari kesehatan. Toh sebagian besar penyakit biasanya menyerang orang-orang gemuk. Tetapi benarkah orang kurus benar-benar terhindar dari penyakit?

Penelitian terbaru dari Prancis mengungkap seseorang bertubuh kurus juga berisiko kanker usus besar meski selama ini kanker usus besar lebih banyak ditemukan pada mereka yang gemuk. Hal ini terjadi karena tubuh kurus kenaikan kadar insulin dalam tubuh mengindikasikan tingginya risiko kanker usus besar, tak peduli meski yang bersangkutan bertubuh kurus.

Itu artinya orang-orang kurus juga menyimpan risiko penyakit, yang bisa jadi seringkali diabaikan karena kurus dianggap lebih menyehatkan. Setidaknya Anda perlu tahu ada beberapa gangguan kesehatan yang bisa menyerang orang-orang kurus, seperti dirangkum detikHealth dari berbagai sumber, Senin (26/9/2016) berikut ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Siapa Bilang Harus Kurus? Gemuk Sedikit Justru Lebih Sehat


1. Pikun

Foto: thinkstock
Sebuah riset membuktikan, mereka yang terlalu kurus atau BMI-nya di bawah 20 kg/m2 di usia 40-an dan 50-an tahun berisiko 34 persen lebih tinggi untuk mengalami demensia atau pikun di kemudian hari. Menurut peneliti, seseorang yang terlalu kurus cenderung kekurangan vitamin D dan E yang berfungsi sebagai nutrisi bagi otak.

2. Kelebihan kolesterol

Foto: thinkstock
Kelebihan kolesterol (hiperkolesterolemia) tak hanya menyerang yang gemuk, tetapi juga orang kurus, terutama yang gemar makan makanan tak sehat dan jarang berolahraga. Dr Antonia Anna Lukito, SpJP-FIKA, ahli jantung dari RS Siloam Lippo Karawaci pun menegaskan, pola makan lebih mempengaruhi risiko hiperkolesterolemia pada diri seseorang ketimbang faktor genetik dan berat badan.

"Gemuk biasanya punya risiko hiperkolesterolemia lebih tinggi, tetapi tidak berarti kalau gemuk 100 persen pasti kolesterolnya berlebih. Begitu pula kalau kurus tidak selalu aman. Makan sedikit tapi kalau gorengan melulu, kolesterolnya juga bisa berlebih," lanjut Dr Antonia.

Kalau tidak dikontrol, kelebihan kolesterol bisa menjadi faktor risiko berbagai penyakit jantung dan pembuluh darah. Kolesterol jahat atau LDL (Low Density Lipoprotein) bisa menyebabkan penyumbatan pembuluh darah, sehingga memicu kematian akibat stroke atau serangan jantung.

3. Serangan jantung

Foto: ilustrasi/thinkstock
dr Raja Adil C Siregar, MM, SpJP dari RS Bethsaid pernah mengutarakan bahwa orang yang mengalami serangan jantung belum tentu gemuk. Ia berkisah ada seorang pasiennya yang terkena serangan jantung namun bertubuh sangat kurus.

"Ternyata ia memiliki pola hidup yang tidak sehat seperti perokok aktif dan mengonsumsi makan-makan yang pantangan," paparnya.

4. Diabetes

Foto: iStock
Beberapa waktu lalu, Prof Sidartawan Soegondo, Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Indonesia menegaskan, diabetes bisa terjadi pada siapapun, baik yang kurus maupun gemuk. Namun ia mengungkapkan ada perbedaan yang mencolok antara pasien diabetes di Asia dan Eropa. Ternyata pasien diabetes di Asia rata-rata bertubuh kurus dan berat badannya normal.

Jika diabetes kebanyakan disebabkan produksi insulin berlebih, pada pasien Asia justru terjadi defisiensi insulin. "Ini kebalikannya, jadi insulinnya mungkin kerjanya normal, tapi jumlahnya sangat sedikit, jadinya tidak mampu mengolah seluruh gula dalam darah, yang menyebabkan gula darahnya tinggi," urainya.

Riset lain yang dilakukan di AS juga mengungkap, pasien diabetes yang kurus atau memiliki berat badan normal berisiko meninggal dua kali lebih besar dibanding orang yang mengalami kelebihan berat badan.

5. Infeksi paru-paru

Foto: Thinkstock
Sebuah riset yang dilakukan di AS mengungkap, perempuan bertubuh tinggi dan kurus rentan terhadap nontuberculous mycobacteria (NTM). Bakteri ini biasanya menyerang kulit maupun bagian tubuh lain, tetapi paling sering menginfeksi paru-paru.

Persoalannya, infeksi ini sangat sulit untuk diobati, bahkan seringkali membutuhkan operasi dan terapi antibiotik intravena yang kuat dan panjang waktunya. Di sisi lain, pasien NTM mempunyai respons kekebalan tubuh yang lebih lemah.

Baca juga: Jangan Biarkan Tubuh Terlalu Kurus

Perlu diketahui bahwa skinny fat atau kurus tapi gemuk sebenarnya lebih berbahaya dari obesitas. Kondisi ini merujuk pada orang-orang yang bertubuh kurus namun memiliki perut yang besar akibat tumpukan lemak di perutnya.

Menurut pakar, lemak di perut (lemak visceral) dapat mengakibatkan tekanan yang lebih besar pada jantung dan organ lainnya. Lemak perut juga meningkatkan risiko resistensi insulin, sehingga peluang untuk terserang penyakit kronis seperti jantung dan diabetes menjadi semakin besar ketimbang orang yang kelebihan berat badan sekalipun.

Halaman 2 dari 6
Sebuah riset membuktikan, mereka yang terlalu kurus atau BMI-nya di bawah 20 kg/m2 di usia 40-an dan 50-an tahun berisiko 34 persen lebih tinggi untuk mengalami demensia atau pikun di kemudian hari. Menurut peneliti, seseorang yang terlalu kurus cenderung kekurangan vitamin D dan E yang berfungsi sebagai nutrisi bagi otak.

Kelebihan kolesterol (hiperkolesterolemia) tak hanya menyerang yang gemuk, tetapi juga orang kurus, terutama yang gemar makan makanan tak sehat dan jarang berolahraga. Dr Antonia Anna Lukito, SpJP-FIKA, ahli jantung dari RS Siloam Lippo Karawaci pun menegaskan, pola makan lebih mempengaruhi risiko hiperkolesterolemia pada diri seseorang ketimbang faktor genetik dan berat badan.

"Gemuk biasanya punya risiko hiperkolesterolemia lebih tinggi, tetapi tidak berarti kalau gemuk 100 persen pasti kolesterolnya berlebih. Begitu pula kalau kurus tidak selalu aman. Makan sedikit tapi kalau gorengan melulu, kolesterolnya juga bisa berlebih," lanjut Dr Antonia.

Kalau tidak dikontrol, kelebihan kolesterol bisa menjadi faktor risiko berbagai penyakit jantung dan pembuluh darah. Kolesterol jahat atau LDL (Low Density Lipoprotein) bisa menyebabkan penyumbatan pembuluh darah, sehingga memicu kematian akibat stroke atau serangan jantung.

dr Raja Adil C Siregar, MM, SpJP dari RS Bethsaid pernah mengutarakan bahwa orang yang mengalami serangan jantung belum tentu gemuk. Ia berkisah ada seorang pasiennya yang terkena serangan jantung namun bertubuh sangat kurus.

"Ternyata ia memiliki pola hidup yang tidak sehat seperti perokok aktif dan mengonsumsi makan-makan yang pantangan," paparnya.

Beberapa waktu lalu, Prof Sidartawan Soegondo, Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Indonesia menegaskan, diabetes bisa terjadi pada siapapun, baik yang kurus maupun gemuk. Namun ia mengungkapkan ada perbedaan yang mencolok antara pasien diabetes di Asia dan Eropa. Ternyata pasien diabetes di Asia rata-rata bertubuh kurus dan berat badannya normal.

Jika diabetes kebanyakan disebabkan produksi insulin berlebih, pada pasien Asia justru terjadi defisiensi insulin. "Ini kebalikannya, jadi insulinnya mungkin kerjanya normal, tapi jumlahnya sangat sedikit, jadinya tidak mampu mengolah seluruh gula dalam darah, yang menyebabkan gula darahnya tinggi," urainya.

Riset lain yang dilakukan di AS juga mengungkap, pasien diabetes yang kurus atau memiliki berat badan normal berisiko meninggal dua kali lebih besar dibanding orang yang mengalami kelebihan berat badan.

Sebuah riset yang dilakukan di AS mengungkap, perempuan bertubuh tinggi dan kurus rentan terhadap nontuberculous mycobacteria (NTM). Bakteri ini biasanya menyerang kulit maupun bagian tubuh lain, tetapi paling sering menginfeksi paru-paru.

Persoalannya, infeksi ini sangat sulit untuk diobati, bahkan seringkali membutuhkan operasi dan terapi antibiotik intravena yang kuat dan panjang waktunya. Di sisi lain, pasien NTM mempunyai respons kekebalan tubuh yang lebih lemah.

Baca juga: Jangan Biarkan Tubuh Terlalu Kurus

Perlu diketahui bahwa skinny fat atau kurus tapi gemuk sebenarnya lebih berbahaya dari obesitas. Kondisi ini merujuk pada orang-orang yang bertubuh kurus namun memiliki perut yang besar akibat tumpukan lemak di perutnya.

Menurut pakar, lemak di perut (lemak visceral) dapat mengakibatkan tekanan yang lebih besar pada jantung dan organ lainnya. Lemak perut juga meningkatkan risiko resistensi insulin, sehingga peluang untuk terserang penyakit kronis seperti jantung dan diabetes menjadi semakin besar ketimbang orang yang kelebihan berat badan sekalipun.

(lll/vit)

Berita Terkait