Seperti yang dirasakan Aya Kito dalam film 1 Litre of Tears. Film ini mengulas bagaimana seorang gadis menghadapi kondisi yang tiba-tiba menyebabkan dirinya tidak leluasa bergerak. Seperti judulnya, film ini banyak menghadirkan adegan menguras air mata.
Fil ini mengisahkan Aya Kito yang duduk di bangku sekolah menengah pertama. Aya adalah gadis yang aktif dan periang. Hingga pada suatu hari sang ibu melihat Aya pulang ke rumah dalam keadaan terluka.
Saat itu Aya baru saja berangkat ke sekolah bersama sang adik perempuan. Namun mungkin belum sampai sekolah, Aya mengaku terjatuh di tengah jalan. Luka lecet itu berada di dagu Aya. Oleh sang ibu, Aya dibawa ke dokter.
Sesampainya di rumah sakit, dokter bertanya bagaimana Aya bisa terjatuh dengan luka lecet di dagu. Bukan apa-apa, dokter berpikir biasanya ketika seseorang terjatuh, luka lecet yang ditemukan ada di lutut atau kaki. Apalagi seharusnya ada refleks di mana kedua tangan berupaya menahan tubuh saat terjatuh.
Melihat kondisi Aya, dokter pun curiga Aya tak memiliki refleks tersebut. Dokter lantas menyarankan agar sang ibu membawa Aya untuk menjalani pemeriksaan intensif. Karena khawatir, sang ibu menduga Aya sedang stres karena sebentar lagi ia akan menghadapi ujian akhir. Meski begitu Aya tak mengaku demikian. Ia lebih memilih menuruti keinginan ibunya untuk melakukan check-up.
Hal menarik ditemukan saat check-up berlangsung. Oleh dokter, Aya dites untuk melakukan beberapa hal. Pertama, ia diminta menyentuh hidungnya dalam keadaan mata tertutup dan Aya gagal melakukannya. Hasil serupa juga terlihat pada tes kedua. Aya diminta berdiri dengan satu kaki sembari kedua tangannya dilebarkan untuk menjaga keseimbangan, tetapi tubuh Aya justru doyong. Sesi berikutnya, Aya menjalani CT scan pada otaknya. Bagaimana hasilnya?
Setelah hasil tes keluar, dengan berat hati dokter mengatakan kepada ibu Aya bahwa putrinya terserang spinocerebellar ataxia. Ini adalah penyakit degeneratif yang ditandai dengan hilangnya kendali seseorang atas otot-otot di tubuhnya.
Pada kasus Aya, hal ini diperkuat dengan hasil CT scan di mana salah satu bagian otak Aya yang bernama cerebellum mengalami penyusutan. Cerebellum memang bertugas mengkoordinasikan otot dan sendi pada tubuh agar bisa melakukan berbagai gerakan, tetapi jika bagian ini terganggu, bisa dipastikan pergerakan orang yang bersangkutan juga akan terganggu.
Ataxia juga terbagi ke dalam beberapa tipe yang dibedakan menurut gen di tubuh pasien yang mengalami mutasi, dan salah satunya adalah spinocerebellar ataxia. Peneliti telah menemukan lebih dari 20 gen yang memicu ataxia jenis ini dan kemungkinan angkanya masih akan bertambah. Perbedaan mutasi gen juga ikut mempengaruhi kapan munculnya penyakit ini untuk pertama kali dan apa saja gejalanya.
Ilustrasi scan otak (Foto: Thinkstock) |
Antara satu pasien dengan yang lain, munculnya gejala ataxia juga bisa berbeda-beda, bisa perlahan dari waktu ke waktu atau mendadak. Pemicunya pun beragam, antara lain trauma di kepala, penyalahgunaan alkohol, stroke, tumor, cerebral palsy, cacar air, reaksi racun, multipel sklerosis, kekurangan vitamin E atau B-12, atau adanya gen cacat yang diwariskan dari orang tua ke anak.
Dalam kasus Aya, tidak dijelaskan dengan pasti bagaimana bisa cerebellum Aya mengalami penyusutan atau apa yang memicu kondisinya tersebut. Pada kasus tertentu, ataxia memang bisa muncul secara sporadis atau tiba-tiba dan tidak diketahui apa penyebabnya.
Akan tetapi seperti dikutip dari Mayo Clinic, sebagian besar penderita ataxia memperlihatkan gejala serupa, di antaranya:
- Koordinasi gerak yang buruk
- Cara jalan yang tidak stabil dan kecenderungan untuk jatuh
- Sulit melakukan gerakan motorik yang mendetail seperti makan, menulis atau mengancingkan baju
- Perubahan cara bicara
- Gerakan bola mata yang maju-mundur dengan sendirinya (nystagmus)
- Kesulitan menelan makanan
Bagaimana kelanjutan kisah Aya?
Yang mengharukan dari film ini adalah perjuangan seorang gadis yang harus bertahan hidup dari penyakit degeneratif di usianya yang baru menginjak 15 tahun. Sejak didiagnosis, Aya memang masih bisa sekolah tetapi ia sudah tidak selincah dulu.
Tantangan-tantangan pun muncul satu-persatu, seperti Aya yang selalu absen di mata pelajaran olahraga dan menimbulkan protes dari teman-temannya, Aya yang kesulitan menaiki tangga karena kelasnya di lantai 2 dan Aya yang tak bisa mengejar bus, sehingga harus bergantung kepada sang ibu. Jika musim libur tiba, Aya juga lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit untuk rehabilitasi. Pernah suatu hari Aya diajak mengejar bis oleh teman barunya. Aya yang tak mau ketinggalan sontak berlari dan langsung terjatuh, lagi-lagi dengan luka di dagunya.
Untungnya Aya memiliki orang-orang dekat yang senantiasa mendukungnya, mulai dari keluarga, tiga orang sahabat dan dokter yang menanganinya, dr Yamamoto. sr Yamamoto pun memberikan perhatian lebih kepada Aya, bahkan hingga ke perubahan mental Aya hingga ia selalu berusaha meringankan derita gadis itu, salah satunya dengan memberinya buku diari.
Ilustrasi menulis di diari |
Karena tak tahan dengan keadaannya, Aya akhirnya memberanikan diri untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi kepada dirinya. Dengan berat hati, dr Yamamoto mengatakan bahwa penyakit gadis malang itu belum ada obatnya. Pengobatan maupun rehabilitasi yang dijalaninya selama ini hanya akan memperlambat penurunan kondisinya.
Selain kondisi medisnya, ada hal yang lebih membuat Aya sedih. Apa itu?
Namun tak ada yang lebih memilukan Aya daripada ketika ia harus dikeluarkan dari sekolah. Pihak sekolah mengaku terbebani dengan keberadaan Aya, bahkan mereka mengaku sulit untuk menyiapkan fasilitas khusus untuk anak penyandang cacat jika hanya untuk Aya saja. Aya memang akhirnya pindah ke sekolah khusus untuk anak penyandang cacat.
Di sinilah ia ditempa menjadi seseorang yang mandiri. Bahkan suatu malam ketika Aya terjatuh di koridor sekolah, seorang guru menghampirinya dan 'meneriakinya' agar bisa bangun sendiri. Begitu pula ketika Aya dan teman-temannya diminta menyiapkan pertunjukan. Semuanya dilakukan oleh para siswa sendiri, tak peduli seberat apapun tantangan yang mereka harus hadapi.
Lulus sekolah menengah, Aya banyak menghabiskan waktunya di rumah ataupun menjalani terapi di rumah sakit. Ia mulai kesulitan berbicara dan menulis, tetapi Aya mencoba bertahan dengan rutin menjalani terapi fisik. Penanganan ataxia memang baru bisa ditentukan setelah diketahui penyebabnya.
![]() |
Biasanya agar bisa beradaptasi, pasien dilengkapi dengan alat bantu seperti walker atau cane. Pasien juga diminta menjalani rehabilitasi dengan terapi fisik, terapi okupasional dan/atau terapi wicara. Ia pun sempat berkenalan dengan seorang dokter residen yang sering mengunjungi kamarnya, berdalih selalu tersesat di rumah sakit. Namun begitu ia tahu sang dokter dekat dengan seorang perawat, Aya mengundurkan diri.
Aya akhirnya menghembuskan napas terakhirnya di rumahnya di usia 25 tahun. Kisah dalam film itu diadaptasi langsung dari diari yang ditulis Aya Kito yang didasarkan atas kondisinya sendiri hingga menjelang ajal. Meski keluaran tahun 2004, film asli Jepang ini dikenal luas karena kisahnya yang mampu menguras air mata setiap penonton ketika melihat 'jatuh bangun' Aya. Apalagi sebagian besar cerita diambil dari sudut pandang si pemeran utama, lengkap dengan gambaran kepolosan ala remaja yang dimilikinya.
Oleh Fuji TV, diari ini juga diangkat dalam bentuk drama yang bertajuk 1 Litre no Namida dan ditayangkan di tahun 2005. Bedanya di dalam drama juga diceritakan kisah cinta Aya dengan seorang remaja seumurannya. Sang kekasih yang awalnya digambarkan sebagai anak pemalas bahkan terinspirasi untuk menjadi dokter setelah mengenal Aya.
Cinemathoscope hadir setiap Kamis untuk mengulas film dengan tema kondisi kesehatan tertentu. Ya, dari film kita bisa belajar banyak hal, tak terkecuali mengetahui kondisi medis tertentu. Punya ide, film apa yang perlu dibahas di sini?
Halaman 2 dari 4












































Ilustrasi scan otak (Foto: Thinkstock)
Ilustrasi menulis di diari