Ketika kaki gajah sudah kadung membesar, tidak semua pasien yang mengalami cacat permanen bisa ditangani melalui prosedur bedah. Demikian disampaikan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik (P2PTVZ) Ditjen P2P Kemenkes RI, drg R Vensya Sitohang, MEpid.
"Hanya ada keberhasilan yang memang bisa diprediksi, dicapai, itu kalau bengkak yang terjadi di area skrotum. Tetapi, mesti dilihat juga pembesarannya kayak gimana," kata drg Vensya usai pelaksanaan Bulan Eliminasi Kaki Gajah (Belkaga) 2016 di taman kota kabupaten Gunung Mas, Kuala Kurun, Kalimantan Tengah, Senin (3/10/2016).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oleh karena itu, lanjut dia, tidak ada kata lain selain deteksi dini. Menurut dia, makin awal kaki gajah ditemukan, makin awal diobati hingga kemungkinan pasien 'diselamatkan' pun lebih besar hingga terhindar dari kecacatan menetap dan akhirnya bisa sembuh total.
Bagi pasien yang diketahui terdapat mikrofilaria di darahnya, mereka diberi obat secara individual menggunakan DEC selama 13 hari. Untuk pasien limfedema tahap 1 dan 2, pengobatan individual masih memungkinkan pasien kembali normal.
"Untuk itu dilakukan penatalaksanaan yang tujuannya agar anggota tubuh yang mengalami kecacatan tidak makin parah. Pada yang sudah mengalami cacat permanen, menjaga kebersihan penting. Bagian tersebut dibersihkan terutama di area yang berlipat jangan sampai bikin area itu kotor dan jadi sumber infeksi," pungkas drg Vensya.
Baca juga: Jalan Panjang Eliminasi Penyakit Kaki Gajah di Indonesia
(rdn/vit)











































