dr Abdul Moodambail yang menangani kasus menjelaskan dalam laporannya bahwa anak laki-laki berusia empat tahun tersebut mendapatkan berbagai suplemen yang ditujukan untuk mengobati autisme. Selain itu ia juga menjalani terapi mandi garam, perak, dan susu unta selama berbulan-bulan.
Dalam tiga minggu terakhir sebelum dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) Newham University Hospital sang bocah bobotnya sudah turun tiga kilogram. Ia menderita muntah-muntah serta kehausan ekstrem.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Studi: Paparan Scan Berlebihan di Awal Kehamilan Perparah Risiko Autis Anak
"Pada kasus ini sang anak alami keracunan vitamin D sehingga kadar kalsium sangat tinggi membuatnya tidak sehat dan berpotensi fatal," lanjut dr Abdul.
Setelah diterapi untuk menghilangkan dehidrasi dan menormalkan kadar kalsium tubuh selama dua minggu, sang bocah dilaporkan pulih. Sementara itu orang tuanya merasa bersalah karena niat baik mereka ternyata membuat sang buah hati sakit.
dr Abdul mengatakan orang tua yang memiliki anak dengan kondisi kesehatan jangka panjang seperti autisme memang akan lebih mungkin untuk mencoba terapi alternatif. Alasannya karena ilmu medis sendiri belum mampu menemukan solusi efektif sehingga dalam usaha mencari harapan mereka berpaling ke pengobatan alternatif.
"Ketika beberapa terapi komplementer dan alternatif mengatakan mereka dapat menyembuhkannya, para orang tua tersebut mendapatkan harapan yang kemungkinan besar itu palsu," kata dr Abdul.
Para praktisi kesehatan harus menyadari situasi ini dan bisa mengedukasi pasien bagaimana memilih terapi dengan bijak. Alternatif memang tidak dilarang namun bukan sebagai upaya terapi utama.
Baca juga: Ini yang Sebaiknya Dilakukan Ortu Jika Curiga Anaknya Memiliki Autisme
(fds/vit)











































