Kamis, 13 Okt 2016 14:31 WIB

Saat Skin to Skin Contact dengan Bayi, Ayah dan Ibu Masih Bisa Beraktivitas Lho

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Foto: Thinkstock Foto: Thinkstock
Jakarta - Skin to skin contact umumnya dilakukan ibu setelah bayinya lahir, sembari melakukan inisiasi menyusu dini (IMD). Setelah itu, skin to skin concact tetap bisa dilakukan dan tak harus dalam posisi si ayah atau ibu berbaring lho.

dr Asti Praborini SpA, IBCLC dari RS Kemang Medical Care menjelaskan, prinsipnya saat melakukan skin to skin contact bayi tetap menggunakan popok. Kemudian, si ibu dalam kondisi telanjang dada, tidak memakai bra ataupun singlet. Nah, si bayi diletakkan di dada ibu.

"Tapi di bawah ibu bisa pakai rok atau sarung. Kalau bapak ya tetap bisa pakai celana. Terus bayinya diiketin ke tubuh ibu atau bapaknya pakai kain jarit. Nah, ibu atau bapaknya pakai kimono atau baju yang longgar," kata dr Asti saat berbincang dengan detikHealth.

Dengan kata lain, skin to skin contact tak melulu harus dilakukan dalam kondisi ayah atau ibu berbaring lalu si bayi diletakkan di dada mereka.

"Bapak atau ibunya ya masih bisa gerak bebas, bisa mengerjakan sesuatu. Misalnya duduk di meja makan sambil makan ya bisa. Ada pasien saya melakukan skin to skin contact sambil masak, bisa kok," kata dr Asti.

Ia mengungkapkan skin to skin contact berguna supaya bayi dekat dengan orang tuanya, dia merasa tenang, aman, jarang menangis, dan lebih sering menyusu jika yang melakukan adalah ibunya. Bayi pun merasa hangat.

Baca juga: Ini yang Perlu Dipahami Soal Skin To Skin Contact dan Inisiasi Menyusu Dini

Sehingga, dr Asti mengatakan kehangatan yang didapat bayi sama ketika bayi ditaruh di inkubator. Hanya saja, 'inkubator' ini membuat bayi bisa diusap dan dibelai langsung oleh ibunya, dinyanyikan, dan menyusu langsung.

Menurut dr Asti, cara ini sangat bagus, lebih murah, dan lebih efektif terlebih untuk negara berkembang seperti Indonesia. WHO pun sudah mengeluarkan anjuran. Dikatakan dr Asti, Perinasia (Perkumpulan Perinatologi Indonesia) juga sudah mendapat lisensi. Tapi sayangnya, kekhawatiran bayi akan masuk angin menghambat kemajuan praktik skin to skin contact ini.

"Padahal ini nyaman sekali bagi bayi. Membuat dia hangat. Pada bayi-bayi kecil, survival rate-nya juga lebih tinggi dengan skin to skin contact. Skin to skin contact juga nggak cuma bisa dilakukan bapak atau ibu aja. Nenek atau kakenya juga boleh misalnya. Ada pasien saya bayinya kembar 3, skin to skin contactnya satu sama ibu, satu sama bapak, satu sama neneknya," tutur dr Asti.

Baca juga: Berat Lahir Bayi Rendah, Anak Bisa Jadi Lebih Pasif Saat Dewasa

(rdn/vit)
News Feed