Jumat, 14 Okt 2016 14:06 WIB

Survei detikHealth

62 Persen Karyawan Pilih Cuti dan Liburan Ketika Stres karena Pekerjaan

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Foto: admn
Jakarta - Stres karena pekerjaan disebut pakar bisa memicu terjadinya depresi. Jika tak tertangani, depresi bisa menjadi semakin parah dan memunculkan keinginan untuk bunuh diri.

detikHealth melakukan survei kecil-kecilan melalui akun twitter @detikHealth. Survei dilakukan pada Rabu (12/10/2016) hingga Kamis (13/10/2016). Pembaca diminta untuk memilih apa yang mereka lakukan ketika mengalami stres akibat tekanan pekerjaan.

Hasil survei menunjukkan 62 persen responden memilih cuti dan pergi berlibur. Sementara itu, 29 persen responden memilih cuti dan istirahat di rumah. Di sisi lain, 9 persen responden memilih untuk pindah kerja ke tempat lain.

Baca juga: Meditasi Sederhana untuk Bantu Tenangkan Diri Saat Stres di Kantor

62 Persen Karyawan Pilih Cuti dan Liburan Ketika Stres karena PekerjaanFoto: twitter @detikHealth

Aulia, seorang pembaca detikHealth mengisahkan bagaimana ia sering tidak sempat makan karena saking banyaknya pekerjaan. Waktu makan siang yang seharusnyan digunakan untuk mengisi energi ia gunakan untuk tidur karena sering merasa mengantuk saat bekerja.

"Saat pagi hari saya juga tidak sarapan, karena kalau sarapan pagi saya akan sakit perut saat bekerja. Saat malam hari saya juga tidak makan, saya kehilangan nafsu makan. Saya memilih untuk istirahat," ungkapnya kepada detikHealth.

Ha ini membuat kesehatan Aulia cukup terganggu. Wanita 21 tahun yang bekerja di sebuah perusahaan di Banten ini mengaku pekerjaannya cukup menguras energi. Terakhir, ia diketahui mengidap mag dan bahkan pernah pingsan karena tidak kuat menahan sakit saat bekerja.

Menanggapi hal ini, dr Andri, SpKJ, FAPM dari Klinik Psikosomatik RS Omni Alam Sutera, menyebut tekanan yang dirasakan oleh pekerja bermacam-macam. Mulai dari beban kerja yang berat, target yang sulit direalisasikan hingga hubungan yang kurang harmonis dengan rekan kerja atau atasan.

Tekanan yang tidak bisa diadaptasi ini akan menunjukkan gejala pada tubuh, mulai dari rasa lemas, sulit berangkat ke kantor atau berkurangnya produktivitas. Jika sudah seperti ini, dr Andri mengatakan memang salah satu cara untuk meredakannya adalah dengan mengambil waktu libur.

"Time break dululah, off dulu pergunakan hak cutinya. Kalau boleh cuti dan mampu liburan silakan. Tapi kalau nggak liburan, cuti di rumah saja nggak masalah. Sama-sama bermanfaat," tutur dr Andri, dalam perbincangan dengan detikHealth, baru-baru ini.

Mengambil libur dan tidak berhubungan dengan pekerjaan akan membuat beban stres berkurang. Pikiran juga lebih tenang sehingga ketika masuk kantor lagi, produktivitas bisa kembali normal.

Namun jika sudah liburan dan gejala-gejala depresi masih kelihatan, mungkin sudah waktunya bagi Anda untuk meminta bantuan profesional dari dokter jiwa atau psikolog. Bisa jadi, gangguan depresi yang muncul tidak hanya dipengaruhi oleh pekerjaan saja, namun juga hal-hal lain.

"Kalau sudah cuti tapi masih muncul gejalanya selama lebih dari 2 minggu, segera ke psikiater. Karena kita nggak tahu kapan gejalanya akan jadi tambah parah, dari yang awalnya cuma lemas saja bisa jadi putus asa dan akhirnya mau bunuh diri," tutupnya.

Baca juga: Sering Lemas dan Produktivitas Kerja Menurun? Bisa Jadi Tanda Depresi (mrs/vit)